Kabar Netizen Terkini – Rencana penyelenggaraan Istighosah Kubro oleh Front Persaudaraan Islam (FPI) pada 29 Juni 2025 di Lapangan Masjid Baitul Salam, Kampung Encle, Tangerang, tak sekadar agenda religius. Bagi FPI, kegiatan tersebut adalah panggung strategis umat untuk menyuarakan penolakan terhadap proyek reklamasi PIK-2 yang dinilai telah menindas masyarakat dan merusak lingkungan.
Acara ini rencananya akan dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional FPI seperti Imam Besar Habib Rizieq Shihab, Abuya KH. Ahmad Qurtubi Zaelani, dan Habib Muhammad Al Athas. Kehadiran mereka diproyeksikan sebagai titik ledak konsolidasi moral dan politik umat Islam dalam menolak PIK-2 secara tegas dan terbuka.
“Ini bukan hanya acara doa. Ini adalah deklarasi politik umat. Kami ingin seluruh rakyat tahu bahwa PIK-2 adalah bentuk ketidakadilan, dan kami tidak akan diam,” ungkap Ustadz Ahmad Abi Sujai, Ketua DPW FPI Kabupaten Serang.
FPI melihat momentum 1 Muharram sebagai waktu yang tepat untuk menyalakan kembali semangat hijrah—dari penindasan menuju keadilan. Dalam forum itu, diharapkan Habib Rizieq akan menyampaikan pernyataan resmi dan tegas menolak keberlanjutan proyek PIK-2 serta menyerukan perlawanan moral rakyat.
Lebih dari sekadar simbolik, Istighosah Kubro ini juga dimanfaatkan untuk menggugah jaringan FPI di berbagai daerah agar menggelar aksi serentak berskala kecil-menengah di kota dan kabupaten strategis. Tujuannya jelas: menyebarkan gema penolakan dari tingkat lokal ke nasional secara simultan.
FPI menargetkan setidaknya 15–20 daerah menggelar aksi dalam waktu berdekatan—termasuk di kawasan urban seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Makassar—sebagai cara membangun tekanan publik dan opini nasional yang kuat terhadap proyek PIK-2.
Strategi ini dinilai efektif karena memadukan kekuatan spiritual umat, jaringan massa yang tersebar, dan kekuatan simbolik tokoh-tokoh besar. Dengan framing perlawanan yang berlandaskan nilai Islam dan keadilan sosial, FPI memosisikan diri sebagai motor gerakan rakyat yang menolak dominasi oligarki atas tanah air.
