Gemini Generated Image er38lser38lser38

JAKARTA — Peringatan Hari Buruh Internasional atau Mayday yang jatuh pada 1 Mei mendatang diharapkan menjadi momentum refleksi dan penyampaian aspirasi yang damai. Di tengah persiapan berbagai serikat pekerja untuk turun ke jalan, muncul imbauan keras dari berbagai kalangan agar elemen buruh mewaspadai potensi provokasi yang dapat mencederai kemurnian perjuangan dan mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

Menyuarakan pendapat di muka umum merupakan hak konstitusional yang dijamin oleh negara. Namun, eskalasi massa yang besar kerap dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab atau “penumpang gelap” untuk memicu kericuhan. Hal ini menjadi perhatian utama karena tindakan anarkis tidak hanya merugikan fasilitas umum, tetapi juga berimbas langsung pada iklim ketenagakerjaan.

Ancaman Terhadap Stabilitas Ekonomi

Pakar ketenagakerjaan menilai, stabilitas keamanan sangat berbanding lurus dengan stabilitas ekonomi. Aksi unjuk rasa yang berujung pada kerusuhan atau vandalisme akan mengirimkan sinyal negatif kepada para investor dan pelaku usaha.

Jika rantai pasok terhambat, operasional pabrik terhenti, atau iklim investasi memburuk akibat ketidakpastian keamanan, maka pihak yang paling dirugikan pada akhirnya adalah para pekerja itu sendiri. Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga berkurangnya serapan tenaga kerja baru menjadi risiko nyata jika roda ekonomi tersendat akibat instabilitas sosial.

“Kepentingan utama buruh adalah kesejahteraan dan keberlanjutan lapangan pekerjaan. Hal tersebut hanya bisa dicapai jika roda ekonomi berputar dengan baik. Oleh karena itu, menjaga aksi tetap damai dan kondusif adalah bentuk nyata dari menjaga kepentingan buruh itu sendiri,” ujar salah satu pengamat ekonomi.

Menjaga Kemurnian Perjuangan

Para pimpinan serikat pekerja di tingkat nasional maupun daerah diimbau untuk merapatkan barisan dan melakukan mitigasi secara internal. Langkah-langkah preventif seperti menugaskan koordinator lapangan yang tegas, membatasi jam aksi sesuai aturan, dan segera berkoordinasi dengan aparat keamanan jika melihat gelagat mencurigakan di tengah massa, dinilai sangat krusial.

Pemerintah dan aparat keamanan juga diharapkan mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif dalam mengawal jalannya aksi. Ruang dialog tripartit (pemerintah, pengusaha, dan buruh) harus terus dibuka lebar sebelum perayaan Mayday tiba, sehingga sebagian besar tuntutan dapat didiskusikan di meja perundingan, bukan hanya di jalanan.

Peringatan Mayday sejatinya adalah perayaan atas dedikasi dan keringat para pekerja yang menjadi tulang punggung perekonomian bangsa. Dengan mewaspadai provokasi dan mengedepankan aksi yang elegan serta cerdas, cita-cita kesejahteraan buruh dan penguatan ekonomi nasional dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan.