
JAKARTA – Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) yang jatuh pada tanggal 1 Mei mendatang, gabungan serikat pekerja di seluruh Indonesia sepakat untuk menyuarakan satu pesan tegas: mengedepankan aksi damai dan menolak keras segala bentuk provokasi.
Peringatan May Day tahun ini dipastikan akan kembali menjadi panggung bagi jutaan pekerja untuk menyuarakan hak-haknya. Namun, para pemimpin serikat buruh menekankan bahwa kemurnian perjuangan kelas pekerja tidak boleh dinodai oleh tindakan anarkis dari oknum yang tidak bertanggung jawab.
Fokus pada Substansi, Bukan Emosi
Perwakilan aliansi buruh dalam konferensi persnya di Jakarta, menegaskan bahwa turun ke jalan adalah hak konstitusional yang harus dijaga martabatnya.
“Kami turun ke jalan membawa harapan keluarga dan masa depan kesejahteraan pekerja, bukan untuk mencari keributan. Keringat dan perjuangan kawan-kawan buruh terlalu berharga untuk ditunggangi oleh pihak-pihak yang ingin memancing di air keruh,” tegas perwakilan serikat pekerja.
Para koordinator lapangan (korlap) di berbagai daerah telah diinstruksikan untuk merapatkan barisan dan saling menjaga. Mereka dibekali panduan untuk segera memisahkan diri dan melapor kepada aparat jika menemukan individu atau kelompok tak dikenal yang mencoba memicu kericuhan.
Sinergi dengan Aparat Keamanan
Demi mewujudkan aksi yang aman dan tertib, pihak penyelenggara aksi juga telah melakukan koordinasi intensif dengan kepolisian setempat.
Beberapa langkah antisipasi yang disepakati antara lain:
- Pengamanan Simpatik: Mengedepankan pendekatan persuasif antara peserta aksi dan aparat kepolisian yang bertugas.
- Penyaringan Peserta (Screening): Memastikan massa yang tergabung dalam barisan adalah benar-benar elemen pekerja yang sah dan terdaftar dalam serikat.
- Satgas Internal: Mengerahkan satuan tugas (satgas) dari internal buruh untuk membantu menjaga kelancaran lalu lintas dan kebersihan fasilitas umum selama unjuk rasa berlangsung.
Menyuarakan Tuntutan dengan Elegan
Meski mengusung semangat damai, aliansi buruh memastikan bahwa hal tersebut tidak akan menyurutkan daya gedor tuntutan mereka. Isu-isu strategis tetap menjadi sorotan utama pada May Day 2026, di antaranya:
- Penyesuaian Upah: Menuntut upah layak yang seimbang dengan angka inflasi dan kebutuhan hidup pokok.
- Kepastian Kerja: Penolakan terhadap sistem kerja kontrak yang merugikan dan perlindungan bagi pekerja lepas (gig workers).
- Keselamatan Kerja: Peningkatan standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di sektor padat karya dan industri berisiko tinggi.
“Kita akan tunjukkan kepada publik bahwa buruh Indonesia adalah kelompok masyarakat yang cerdas, elegan, dan bermartabat. Kita bisa bersuara lantang menuntut hak, sambil tetap tersenyum dan menjaga ketertiban kota,” tutup pernyataan tersebut.
Peringatan May Day diharapkan dapat berjalan lancar dan menjadi momentum refleksi bersama antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja demi membangun iklim industrial yang berkeadilan di Indonesia.
