Tunjung Budi Utomo menyampaikan tuduhan Ferry Irwandi tidak memiliki dasar fakta dan dapat dikategorikan sebagai fitnah

Jakarta, 8 September 2025 — Persaudaraan Tani-Nelayan Indonesia (PETANI) menyampaikan kritik keras terhadap aktivitas media sosial yang dilakukan Ferry Irwandi, pendiri Malaka Project. Ferry dituding kerap menyebarkan narasi provokatif, termasuk menuding adanya peran TNI dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam skenario darurat militer serta rangkaian aksi unjuk rasa anarkis belakangan ini.

Ketua Advokasi PETANI, Tunjung Budi Utomo, menilai tuduhan tersebut tidak berlandaskan bukti. Ia menyebut pernyataan Ferry Irwandi berpotensi masuk kategori fitnah karena dapat merusak nama baik institusi negara sekaligus menimbulkan keresahan publik.

“Bagi masyarakat kecil yang saat ini sudah terhimpit beban ekonomi dan naiknya harga kebutuhan pokok, isu seperti ini justru menambah rasa khawatir. Mereka takut akan terjadi instabilitas yang sebenarnya tidak ada,” ujar Tunjung.

Menurutnya, unggahan-unggahan bernuansa tudingan itu bisa menyalahi aturan hukum, khususnya Undang-Undang ITE dan pasal-pasal KUHP mengenai penyebaran berita bohong. Tunjung mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat tidak dapat dijadikan alasan untuk menyebarkan hoaks yang merugikan kepentingan umum.

Ia juga menegaskan kembali bahwa TNI memiliki mandat konstitusional untuk menjaga kedaulatan negara, sementara Menteri Pertahanan bertanggung jawab memastikan kebijakan pertahanan berjalan sesuai arah nasional. Menuduh keduanya sebagai aktor di balik kerusuhan, kata Tunjung, sama halnya dengan melemahkan otoritas negara.

“Yang dibutuhkan masyarakat pedesaan hari ini adalah kepastian pangan, ketenangan dalam bekerja, dan rasa aman. Bukan narasi fitnah yang hanya memperkeruh keadaan,” tambahnya.

Tunjung pun berharap aparat penegak hukum dapat menindak tegas setiap penyebaran informasi menyesatkan yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial dan melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.