Bandung, 8 September 2025– Pasca kerusuhan yang dikenal sebagai Agustus Kelabu, muncul dugaan adanya operasi politik untuk menjadikan TNI sebagai kambing hitam. Sorotan diarahkan kepada BAIS TNI setelah muncul opini publik terkait penangkapan seorang intel tentara oleh aparat kepolisian. Meski TNI telah membantah keterlibatan dalam kerusuhan, narasi itu telanjur bergulir.

Kerusuhan besar yang berlangsung antara 25–31 Agustus 2025 dipicu tragedi meninggalnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang terlindas kendaraan lapis baja Brimob. Insiden tersebut memicu ledakan emosi massa dan dituding sebagai bentuk provokasi. Situasi semakin tak terkendali karena adanya dugaan keterlibatan massa “binaan” yang didorong untuk melakukan aksi anarkis, pembakaran fasilitas umum, hingga penjarahan di berbagai kota besar. Peristiwa itu mengingatkan publik pada kerusuhan 1998, di mana TNI juga pernah dijadikan pihak yang disalahkan.

Sejumlah analis menilai ada pola pengalihan isu. Tuntutan awal untuk mencopot Kapolri perlahan menghilang, bergeser menjadi desakan agar TNI “kembali ke barak”. Isu ini diperkuat dengan gencarnya pemberitaan media tertentu serta peran buzzer yang membangun opini bahwa intelijen TNI terlibat dalam kerusuhan. Publik juga melihat adanya faktor politik, terutama terkait jaringan “Geng Solo” yang dinilai masih memiliki pengaruh di tubuh aparat keamanan.

Situasi kian panas setelah keputusan Panglima TNI untuk memutasi Letjen Kunto Arief Wibowo dibatalkan Presiden Prabowo. Langkah ini memunculkan spekulasi keterkaitan dengan manuver politik pihak-pihak yang disebut “anak haram konstitusi”. Sejumlah kalangan menilai skema kerusuhan Agustus Kelabu ditujukan sebagai pembuka jalan untuk melemahkan posisi Presiden Prabowo, bahkan mengarah pada skenario kudeta merangkak.

Namun rencana tersebut dinilai gagal setelah Presiden Prabowo memutuskan menunda kunjungan luar negeri ke Tiongkok. Kehadirannya di dalam negeri dianggap berhasil mencegah kerusuhan berkembang lebih luas. Sementara itu, publik kini menilai ada upaya “cuci tangan” dengan melempar kesalahan kepada TNI, sebuah pola yang disebut mirip dengan gaya politik lempar batu sembunyi tangan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa dinamika politik pasca-kerusuhan bukan hanya soal demonstrasi massa, tetapi juga pertarungan wacana dan upaya pengalihan isu. TNI sekali lagi harus menghadapi tuduhan sebagai pihak yang disudutkan, meski faktanya kerusuhan Agustus Kelabu masih menyisakan banyak tanda tanya tentang siapa sebenarnya aktor utama di baliknya.