Jakarta – Asap kemarahan yang membubung di jalanan kini tidak hanya berasal dari teriakan massa, tetapi juga dari kata-kata yang melesat di dunia digital. Dalam sebuah podcast terbaru, hadir Gusti Ayu Dewi—grafolog legendaris yang dulu dikenal dengan nama Deborat—yang menyoroti bahaya disinformasi dan manipulasi opini publik.

Selama 14 tahun, Gusti Ayu meneliti jejak tulisan tangan dalam berbagai kasus besar: mulai dari perbankan, terorisme, hingga tragedi kopi sianida. Kini, ia menyorot fenomena baru: kekuatan kata-kata dalam video viral. Salah satu contohnya adalah sosok Ferry Irwandi, yang sempat jadi sorotan setelah videonya terkait kerusuhan di Palembang beredar luas.

Menurut Gusti Ayu, tambahan satu kata kecil dalam narasi Ferry—“bukan cuma saya”—cukup untuk mengubah persepsi publik. “Disinformasi itu seperti racun yang menetes perlahan, tapi pasti membelah rakyat dan aparat,” ujarnya tegas.

Dari Aspirasi Jadi Anarki

Gusti Ayu menilai demonstrasi yang mulanya digerakkan oleh aspirasi rakyat, seperti menolak RUU Perampasan Aset, bisa bergeser menjadi aksi anarki akibat provokasi dan framing yang salah arah. “Demo itu mulia di awal, tapi ketika disusupi narasi menyesatkan, arahnya bisa jadi penjarahan, pembakaran, dan kerusuhan,” katanya.

Ia juga mengkritik fenomena glorifikasi simbol tertentu, seperti emak-emak berhijab pink yang dianggap heroik padahal sempat mencoba membakar gardu listrik. “Jangan romantisasi hal-hal berbahaya, karena anak-anak kita bisa meniru,” tambahnya.

Influencer Ikut Terseret

Fenomena disinformasi juga menyeret para influencer. Gusti Ayu menyinggung nama YouTuber populer Jerome Polin yang pernah menyebarkan informasi soal dana Rp150 juta tanpa klarifikasi. “Dengan jutaan pengikut, tanggung jawab moral itu besar. Seperti kutipan Spider-Man, with great power comes great responsibility,” ujarnya.

Di tengah kondisi ekonomi sulit—harga naik, PHK marak, pajak mencekik—Gusti Ayu mengingatkan agar kemarahan rakyat tidak berubah menjadi bom waktu. “Tanpa TNI-Polri, negara ini bisa kembali jadi rimba belantara,” tegasnya.

Ancaman Baru di Era Digital

Yang lebih mengkhawatirkan, menurutnya, adalah tren TikTok Live penjarahan, di mana anak-anak justru mendapat gift dari bandar judi saat menyiarkan aksi kriminal. “Generasi kita dipertaruhkan, hanya demi tontonan singkat dan koin digital,” katanya.