#image_title

Jakarta Utara – Rencana aksi unjuk rasa buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan Tanjung Priok pada 11–12 Februari 2026 mulai kehilangan arah. Alih-alih menguat, konsolidasi justru melemah dan dibayangi konflik kepentingan internal, dugaan penyalahgunaan keuangan, hingga tarik-menarik kepentingan lama di balik pengelolaan ekonomi pelabuhan terbesar di Indonesia.

Fakta ini terungkap dalam pertemuan tertutup pada 4 Februari 2026 di Resto Selera Nusantara, Kebun Bawang, Tanjung Priok, antara tim redaksi dan Syukur Ahmad, Pembina Serikat Buruh SPTKBM JICT. Dalam pertemuan tersebut, Syukur membeberkan dinamika terkini yang membuat rencana aksi buruh TKBM berada dalam posisi “abu-abu”.

TKBM Dipolitisasi, Koperasi Jadi Medan Konflik

Menurut Syukur, buruh TKBM Tanjung Priok saat ini sedang dipolitisasi oleh sejumlah elite internal pelabuhan. Nama M. Nasir, Ketua TKBM Tanjung Priok, disebut sebagai salah satu aktor yang berkepentingan mempertahankan koperasi lama yang selama ini menguasai perputaran ekonomi buruh bongkar muat.

“Intinya mereka tidak mau ada kompetitor,” ujar Syukur. Hadirnya Koperasi Merah Putih yang dipersepsikan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah dinilai mengancam dominasi kelompok lama yang selama bertahun-tahun menguasai distribusi kerja dan keuangan TKBM di Priok.

Situasi ini membuat isu buruh tidak lagi murni soal kesejahteraan, tetapi berubah menjadi alat tawar kepentingan ekonomi segelintir elite pelabuhan.

Instruksi Aksi Sudah Ada, Tapi Diredam Surat Kemenhub

Syukur menjelaskan bahwa rencana aksi sejatinya sudah dibahas dan disepakati dalam konsolidasi di Resto Pendopo Cibubur pada 21 Januari 2026. Bahkan, instruksi aksi sempat dikeluarkan. Namun, sehari setelahnya, muncul surat dari Kementerian Perhubungan yang disebut telah mewadahi tuntutan utama TKBM Tanjung Priok.

Surat tersebut secara efektif meredam eskalasi. Akibatnya, rencana aksi 11–12 Februari hingga kini belum memiliki kepastian, baik dari sisi komando maupun partisipasi massa.

Persatuan Lemah, Mogok Kerja Dinilai Kecil Kemungkinan

Lebih jauh, Syukur menilai kemungkinan aksi mogok atau unjuk rasa besar di Tanjung Priok sangat kecil. Penyebab utamanya adalah lemahnya persatuan internal buruh TKBM. Hingga kini, belum ada figur yang mampu mengoordinasikan buruh dalam skala masif.

Namun, Syukur mengingatkan satu titik rawan lain: Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Menurutnya, TKBM Tanjung Perak memiliki soliditas tinggi dan buruhnya relatif mudah diprovokasi, sehingga potensi eskalasi justru lebih besar di sana jika isu ini melebar.

“Kartu As” Dugaan Penyalahgunaan Dana

Pernyataan paling sensitif muncul ketika Syukur menyebut telah mengantongi “kartu as” terkait dugaan penyalahgunaan keuangan oleh Asep Selamet, Ketua TKBM Tanjung Priok. Dugaan tersebut meliputi dana perumahan buruh yang tak kunjung direalisasikan serta dana Jamsostek yang disebut tidak bisa dicairkan.

Syukur mengklaim kasus ini selama ini “di-keep” oleh aparat KP3 melalui mekanisme bargaining setoran. Klaim ini masih bersifat sepihak dan belum dikonfirmasi ke pihak-pihak terkait, namun disebut-sebut dapat dimunculkan sewaktu-waktu sebagai alat tekan.

Aksi Buruh atau Manuver Elite?

Dari rangkaian fakta tersebut, muncul kesimpulan strategis: rencana aksi buruh TKBM Tanjung Priok bukan semata gerakan organik buruh, melainkan kuat dipengaruhi upaya mengamankan kepentingan ekonomi kelompok tertentu yang selama ini memonopoli pelabuhan.

Dugaan kasus penyalahgunaan keuangan juga membuka ruang tekanan terhadap elite TKBM agar tidak mengganggu kebijakan pemerintah, khususnya terkait pembentukan Koperasi Merah Putih.

Priok Tenang, Tapi Bara Masih Ada

Hingga awal Februari 2026, Pelabuhan Tanjung Priok relatif kondusif. Namun ketenangan ini lebih disebabkan oleh fragmentasi internal ketimbang penyelesaian masalah substantif. Jika konflik koperasi, isu keuangan, dan persaingan elite tak dikelola transparan, bara konflik bisa kembali menyala bukan hanya di Priok, tetapi juga di pelabuhan-pelabuhan strategis lain. Aksi boleh batal, tapi pertarungan kepentingan di balik buruh TKBM masih jauh dari selesai.