
Bekasi, 28 September 2025 – Organisasi Garis Official menggelar talkshow bertajuk “Dari Bekasi Untuk Indonesia Emas 2045: Hindari Hedonisme, Flexing & DFK” di Malamig Coffee, Kota Bekasi, Minggu malam (28/9). Acara yang berlangsung pukul 20.00–21.00 WIB ini dihadiri sekitar 25 peserta dan menghadirkan sejumlah tokoh agama dan ormas.
Hadir sebagai narasumber antara lain Ketua MUI Kota Bekasi Drs. KH. Saifuddin Siroj, Ketua PD Muhammadiyah Kota Bekasi Ust. Zahrul Hadiprabowo, Pembina GARIS Drs. H. Maulana Alhamdani, Amir Khilafatul Muslimin Jabodetabek-Banten Ust. Abu Salma, serta perwakilan Persada 212 Ir. Verry Koestanto dan Ust. Wahyudin.
Dalam sesi pemaparan, KH. Saifuddin Siroj menegaskan pentingnya penelitian serius terkait fenomena LGBT di Bekasi. Menurutnya, data sejak 2012 menunjukkan peningkatan signifikan yang meledak pada 2023–2024. Ia menilai perlu ada payung hukum daerah, termasuk peraturan wali kota, untuk menangani isu tersebut. “MUI berkepentingan terhadap aspek moralitas ini. LGBT bukan hanya penyakit sosial, tapi juga ancaman bagi generasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Muhammadiyah Kota Bekasi, Ust. Zahrul Hadiprabowo, menekankan perlunya pembekalan khusus bagi pemuda Muhammadiyah agar tidak terkontaminasi pengaruh LGBT. “Pembinaan dari internal persyarikatan menjadi benteng awal. Ini pelanggaran syariat yang tidak bisa ditoleransi,” tegasnya.
Pembina Garis, Maulana Alhamdani, menilai maraknya LGBT dan fenomena digital sebagai tantangan besar. Ia menyebut perlunya sinergi antar-ormas keagamaan untuk membentuk generasi muda berkarakter. “MUI, Muhammadiyah, NU, Garis, hingga Khilafatul Muslimin harus bergerak bersama. Seperti jari yang saling melengkapi, agar kuat menghadapi tantangan zaman,” katanya.
Narasumber lain, Ust. Abu Salma dari Khilafatul Muslimin, menyoroti isu Disinformasi, Fitnah, Kebencian (DFK) yang kerap memojokkan TNI-Polri. Ia menilai propaganda semacam ini berpotensi merusak harmoni masyarakat. “KM sering dituduh ingin mengganti ideologi negara. Padahal kami juga korban DFK. Yang kami bawa adalah misi persatuan umat,” jelasnya.
Sementara itu, Ust. Wahyudin dari Persada 212 menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia juga menyinggung urgensi reformasi Polri sebagai langkah perbaikan institusional. “Kepercayaan publik terhadap Polri sudah lama menurun. Reformasi adalah keharusan demi kemaslahatan bersama,” tegasnya.
Talkshow ini mencerminkan upaya sejumlah ormas Islam di Bekasi untuk mengonsolidasikan peran dalam menghadapi tantangan moral, sosial, dan politik. Dari isu LGBT hingga reformasi Polri, para tokoh sepakat bahwa sinergi lintas organisasi keagamaan dan penguatan generasi muda menjadi kunci menuju visi Indonesia Emas 2045.
