Kabar Netizen Terkini – Jenderal (Purn) A.M. Hendropriyono, tokoh intelijen terkemuka yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), kembali menyampaikan peringatan keras mengenai dinamika yang dinilai dapat mengganggu stabilitas nasional. Dalam pernyataannya yang disampaikan bertepatan dengan momentum Idulfitri, Hendropriyono mengajak publik untuk waspada terhadap potensi ancaman subversif yang disebutnya berasal dari kepentingan asing.

“Para agen intelijen Amerika Serikat dan Inggris mulai bergerak untuk melakukan gerakan subversif di negara kita,” ujar Hendropriyono dalam sebuah pesan terbuka.

Menurutnya, gerakan tersebut berpotensi menggoyahkan fondasi pemerintahan, serta menyasar aspek ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan Indonesia. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak menjadi proksi dari pihak luar yang bertujuan menciptakan konflik internal, termasuk memicu perang saudara.

Agitasi dan Propaganda: Senjata Baru

Hendropriyono menyebut bahwa strategi yang digunakan oleh aktor-aktor asing ini bersifat inkonvensional. Mereka dituding menyebarkan agitasi dan propaganda untuk menggiring masyarakat ikut serta dalam aksi-aksi demonstrasi yang, menurutnya, “sering kali tak masuk akal.”

Lebih lanjut, ia mengingatkan tentang maraknya hoaks bernada emosional di media massa dan media sosial, yang dinilai mampu membentuk opini publik dan menyulut ketidakpercayaan terhadap pemerintahan yang sah.

“Sudah cukup kiranya kita menyadari pentingnya berhenti menebar kritik kebencian yang berujung pada delegitimasi pemerintah,” tegasnya.

Isu Sistem Baru dan Dedolarisasi

Pernyataan yang tak kalah mengundang perhatian adalah tudingan bahwa ada upaya revolusi sosial untuk mengganti sistem politik dan ekonomi Indonesia pasca-Reformasi 1998. Hendropriyono mengaitkan hal ini dengan langkah Indonesia yang semakin dekat dengan negara-negara BRICS dan kebijakan dedolarisasi yang berpotensi mengganggu dominasi ekonomi global negara-negara Barat.

Ia juga menyentil soal manipulasi isu hak asasi manusia, khususnya dalam konteks Papua, yang menurutnya dijadikan pintu masuk untuk menciptakan instabilitas dan mendorong intervensi asing.

Reaksi Publik dan Catatan Kritis

Pernyataan mantan Kepala BIN ini langsung menyita perhatian publik. Sebagian kalangan menganggap peringatan ini relevan di tengah meningkatnya tensi sosial-politik, sementara lainnya menilai perlu kehati-hatian agar tidak melahirkan ketakutan yang tidak berdasar.

Namun satu hal yang jelas, Hendropriyono menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional di tengah tantangan geopolitik yang terus berkembang. Ia menutup pernyataannya dengan seruan religius, menyiratkan bahwa peringatan ini bukan sekadar analisis politik, melainkan juga panggilan moral dan spiritual.