
Banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memicu gangguan besar pada aktivitas pendidikan. Pemerintah bergerak cepat menyiapkan berbagai langkah darurat agar ribuan pelajar dan mahasiswa di wilayah terdampak tetap dapat mengakses layanan pendidikan di tengah kondisi krisis. Koordinasi lintas kementerian kini menjadi elemen kunci untuk memastikan keberlanjutan proses belajar-mengajar.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjadi garda depan penanganan anak-anak usia sekolah. Wakil Menteri Atip Latipulhayat menegaskan upaya percepatan distribusi bantuan tengah dilakukan bersama BNPB, meski akses ke sejumlah lokasi masih terhambat.
Menurut Atip, pemerintah telah mendirikan tenda-tenda belajar untuk menggantikan ruang kelas yang rusak. Langkah ini memastikan kegiatan belajar tidak terhenti total sambil menunggu pemulihan sarana pendidikan. Untuk kebijakan lanjutan, Kemendikdasmen menyerahkan keputusan kepada pemerintah daerah sesuai kondisi lapangan, termasuk opsi pembelajaran daring.
Di sisi pendanaan, Kemendikdasmen telah menyalurkan alokasi awal sebesar Rp 13,3 miliar untuk membantu sekolah, memperbaiki sarana rusak, dan menyediakan layanan pendampingan psikososial. Menteri Abdul Mu’ti juga mengajak masyarakat ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana melalui UPZ Baznas Kemendikdasmen.
Kementerian juga mengaktifkan koordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah guna mempercepat pendataan kerusakan sekolah serta kebutuhan mendesak para pelajar. Data tersebut akan digunakan untuk menentukan sekolah prioritas yang akan masuk program revitalisasi pendidikan tahun mendatang.
Mu’ti menekankan pentingnya memastikan pemulihan pendidikan dilakukan secara sistematis. Begitu data lengkap terkumpul, langkah-langkah jangka panjang—mulai dari perbaikan infrastruktur hingga dukungan psikososial—akan disusun sebagai paket pemulihan komprehensif.
Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) mengambil kebijakan yang lebih fleksibel bagi mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Melalui Surat Edaran terbaru, Kemenag memberikan relaksasi akademik yang memungkinkan penyesuaian kalender kuliah, metode pembelajaran, hingga evaluasi akademik.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menegaskan bahwa keselamatan mahasiswa dan dosen menjadi prioritas utama dalam kebijakan darurat ini. Kampus diminta melakukan asesmen cepat dan menyusun kebijakan internal agar kegiatan akademik tetap berjalan tanpa membebani mahasiswa yang sedang menghadapi situasi bencana.
Untuk mahasiswa pendidikan tinggi umum, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) menyiapkan bantuan biaya hidup bagi mereka yang terdampak paling berat. Santunan yang diberikan berada pada kisaran Rp 5 juta hingga Rp 15 juta, termasuk bagi mahasiswa perantau yang keluarganya di Sumatera turut menjadi korban bencana.
Selain santunan langsung, kementerian ini juga mengaktifkan dua skema dukungan strategis:
- 13 kampus di wilayah terdampak menjadi pusat koordinasi akademik dan distribusi bantuan masyarakat, mencakup logistik, layanan air bersih, hingga dukungan kesehatan mental.
- 7–9 kampus besar di Pulau Jawa, seperti ITB dan UGM, ditunjuk sebagai posko dukungan teknologi jarak jauh untuk pemetaan daerah terdampak, produksi filter air, hingga pemanfaatan drone dalam penanganan bencana.
Sekjen Togar M. Simatupang menambahkan bahwa mahasiswa turut dilibatkan dalam identifikasi kebutuhan warga, termasuk penyediaan air bersih melalui teknologi sederhana seperti filter dan sumur pompa.
Rangkaian kebijakan dari Kemendikdasmen, Kemenag, dan Kemendikti Saintek menegaskan bahwa negara hadir untuk memastikan hak pendidikan tidak terputus sekalipun di tengah bencana besar. Mulai dari tenda kelas darurat, kelonggaran akademik, hingga dukungan teknologi perguruan tinggi, seluruh langkah diarahkan agar pelajar dan mahasiswa tetap mendapat akses pendidikan yang aman dan berkelanjutan.
Pemulihan pendidikan di wilayah terdampak banjir Sumatera kini bergantung pada kolaborasi pemerintah pusat, daerah, kampus, dan masyarakat. Semangat gotong royong diharapkan menjadi kekuatan utama dalam memastikan masa depan generasi muda tetap terjaga meski menghadapi situasi sulit.
