
Jakarta – Aktivis Siberkreasi, Oktora Irahadi, menegaskan bahwa literasi digital harus menjadi garda terdepan dalam melawan maraknya informasi palsu di dunia maya. Dalam forum diskusi publik bertajuk “Bahaya Disinformasi Influencer Bagi Persatuan Bangsa” di Jakarta, Kamis (18/9), ia menekankan bahwa upaya ini tidak bisa berhenti pada seruan, melainkan harus berkelanjutan.
Oktora menjelaskan, Siberkreasi merupakan gerakan literasi digital nasional yang telah berjalan sejak 2017 dan dijadwalkan berlanjut hingga 2025. “Fokus kami adalah meningkatkan pemahaman masyarakat dalam memanfaatkan ruang digital dengan sehat. Ini komitmen jangka panjang,” ujarnya.
Ia menyoroti realitas ekosistem media di Indonesia yang kerap memicu penyebaran kabar tidak benar. Dari sekitar 38 ribu media daring, hanya 183 yang sudah terverifikasi Dewan Pers. “Ketidakseimbangan ini menimbulkan celah besar bagi disinformasi untuk menyebar,” ungkapnya.
Selain itu, Oktora mengingatkan masyarakat untuk disiplin menerapkan prinsip “saring sebelum sharing”. Menurutnya, media sosial adalah ruang publik yang mudah diakses siapa saja, sehingga kehati-hatian setiap pengguna menjadi kunci. “Jangan asal klik like atau membagikan informasi. Pastikan dulu validitasnya,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menyoroti pengaruh besar para influencer. Menurut Oktora, meskipun tidak selalu tampil di depan kamera, influencer memiliki kemampuan kuat dalam membentuk opini publik. “Jika diarahkan dengan bijak, mereka bisa menjadi kekuatan positif. Namun tanpa kesadaran, justru bisa menimbulkan dampak negatif luas,” jelasnya.
Oktora juga mengingatkan pentingnya bersikap kritis terhadap praktik endorsement yang melibatkan influencer. “Kita harus tahu siapa yang sebenarnya diuntungkan. Influencer bisa menjadi aset untuk menyebarkan nilai positif, tetapi bisa juga berbalik menjadi ancaman bila tidak ada kontrol,” pungkasnya.
