Jakarta, 10 November 2025 — Setelah melalui perjalanan panjang selama lebih dari satu dekade, Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, akhirnya resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam upacara kenegaraan di Istana Negara, Senin (10/11/2025). Soeharto menjadi salah satu dari sepuluh tokoh yang memperoleh gelar kehormatan tersebut tahun ini.

Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) Fadli Zon menjelaskan, proses pengusulan Soeharto telah berlangsung sejak 2010 dan baru mencapai keputusan final pada tahun ini. “Nama Presiden Soeharto sudah tiga kali diusulkan, sejak era Presiden SBY, kemudian Jokowi, dan baru kali ini disetujui setelah melalui kajian mendalam,” ujarnya usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo.

Proses Panjang Penilaian

Fadli menegaskan bahwa mekanisme penetapan gelar pahlawan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga melalui penilaian bertingkat dari berbagai level. Usulan awal berasal dari masyarakat di tingkat kabupaten/kota, diteruskan ke provinsi, hingga akhirnya dibahas oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat (TP2GP) di Kementerian Sosial.

“Semua nama yang lolos sudah melalui kajian akademik dan historis. Kami memastikan bahwa yang ditetapkan benar-benar memenuhi seluruh syarat formal dan substansial,” tutur Fadli. Salah satu jasa besar Soeharto yang dijadikan dasar pemberian gelar adalah perannya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, yang disebut menjadi momentum pengakuan internasional terhadap eksistensi Republik Indonesia.

Respon Publik dan Pandangan Pemerintah

Keputusan pemerintah memberikan gelar kepada Soeharto menuai beragam tanggapan. Di tengah dukungan, terdapat pula kritik dari kalangan akademisi dan aktivis yang menyoroti kontroversi masa pemerintahannya. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengakui adanya perdebatan tersebut, namun menegaskan bahwa keputusan telah melalui prosedur dan penilaian objektif.

“Presiden Soeharto dinilai memenuhi syarat sebagai pahlawan nasional. Begitu juga dengan tokoh lain seperti Gus Dur dan Marsinah. Semua ditetapkan melalui proses yang transparan,” jelas Gus Ipul di Jakarta, Minggu (9/11/2025).

Ia menambahkan, publik diimbau untuk melihat perjalanan sejarah secara menyeluruh. “Mari kita hargai jasa-jasa beliau terhadap bangsa, sambil tetap mengingat sisi-sisi yang perlu menjadi pelajaran agar tidak terulang di masa depan,” ujarnya.

Makna Historis Penganugerahan

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto menjadi penutup dari perdebatan panjang selama 15 tahun terakhir. Bagi sebagian pihak, keputusan ini dianggap sebagai bentuk rekonsiliasi sejarah dan pengakuan atas kontribusi besar Soeharto dalam mempertahankan eksistensi negara pasca-kemerdekaan dan pembangunan nasional di era Orde Baru.

Sementara itu, pemerintah menegaskan bahwa penganugerahan ini bukan bentuk glorifikasi, melainkan pengakuan formal terhadap jasa nyata yang tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa.