Sekolah Rakyat Buka Akses Pendidikan Sambil Berdayakan Orang TuaProgram Sekolah Rakyat yang digagas oleh Kementerian Sosial bukan sekadar inisiatif pendidikan biasa. Ia merupakan kebijakan strategis yang memadukan aspek pendidikan dan pemberdayaan ekonomi secara bersamaan. Dalam konteks penanggulangan kemiskinan, pendekatan ini patut diapresiasi karena menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan sistem, bukan hanya menjadikan anak sebagai objek bantuan. Dengan melibatkan orang tua siswa dalam program pelatihan keterampilan dan fasilitasi permodalan usaha, pemerintah menunjukkan keseriusan dalam membangun kemandirian sosial-ekonomi keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Langkah ini sekaligus menjadi koreksi atas praktik bantuan sosial selama ini yang terlalu bersifat karitatif dan konsumtif. Pemberian bansos tanpa pendampingan ekonomi jangka panjang hanya akan menjerumuskan keluarga miskin ke dalam ketergantungan struktural. Program Sekolah Rakyat hadir dengan nilai tambah: mendidik anak-anak secara sistematis melalui pendidikan berasrama, sembari memberdayakan orang tua mereka agar bisa menciptakan sumber penghasilan baru. Inilah model intervensi ganda yang dibutuhkan Indonesia untuk benar-benar memutus rantai kemiskinan lintas generasi.

Lebih lanjut, model pembelajaran “multi entry-multi exit” yang ditawarkan Sekolah Rakyat mencerminkan fleksibilitas sistem yang dibangun berbasis realitas sosial ekonomi masyarakat miskin. Banyak anak dari kalangan tersebut yang terpaksa putus sekolah demi membantu orang tua bekerja. Dengan model ini, anak-anak bisa belajar sesuai ritme kehidupan mereka, tanpa harus kehilangan akses terhadap pendidikan formal dan keterampilan. Pendekatan seperti ini bukan hanya relevan, tetapi juga progresif—karena menyesuaikan diri dengan tantangan nyata yang dihadapi rakyat kecil.

Perlu diketahui, calon peserta Sekolah Rakyat diprioritaskan dari kategori miskin ekstrem atau desil 1 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Untuk menjamin ketepatan sasaran, proses seleksi dilakukan melalui verifikasi data dan kunjungan langsung ke rumah calon siswa. Pemerintah juga memperhatikan kondisi hunian keluarga peserta, termasuk kemungkinan perbaikan atau relokasi rumah bagi yang menempati tempat tinggal tidak layak. Ini menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari upaya terintegrasi dalam meningkatkan kualitas hidup keluarga miskin.

Pada akhirnya, Sekolah Rakyat perlu dijaga kesinambungannya agar dapat berkembang menjadi program unggulan pemerintah yang berdaya guna nyata, sebagai solusi jangka panjang yang konsisten menjawab kebutuhan rakyat. Dengan kombinasi antara pendidikan berkualitas bagi anak dan pemberdayaan ekonomi bagi orang tua, program ini berpotensi menjadi tonggak penting dalam mewujudkan keadilan sosial dan memutus rantai kemiskinan struktural di Indonesia. Dukungan dari seluruh elemen bangsa, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat sipil, akan menjadi kunci keberhasilan jangka panjangnya