Jakarta – Soliditas Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mulai menunjukkan gejala keretakan serius. Dua pilar utama kekuatan massa KSPI, yakni Serikat Pekerja Nasional (SPN) dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), tengah dihadapkan pada konflik internal dan ketidakharmonisan elite yang berpotensi berdampak langsung terhadap posisi Said Iqbal sebagai figur sentral gerakan buruh nasional.

Ketegangan pertama mencuat dari hubungan antara Ketua Umum SPN Iwan Sukmawan dan Said Iqbal. Kekecewaan Iwan bermula dari batalnya kehadiran Wakil Menteri Ketenagakerjaan dalam Rapat Kerja Nasional SPN pada 18–20 Januari 2026 di Hotel Balairung, Jakarta. Situasi tersebut diperparah dengan absennya Said Iqbal secara fisik dan hanya hadir melalui sambungan daring. Bagi SPN, momen Rakernas merupakan ajang konsolidasi strategis yang menuntut kehadiran langsung pimpinan konfederasi sebagai simbol kesatuan komando.

Persoalan semakin sensitif ketika Rakernas SPN digelar berbarengan dengan Kongres ke-V Partai Buruh. Kondisi ini menyebabkan fokus dan konsentrasi kekuatan massa KSPI terbelah dalam dua agenda besar sekaligus. Di kalangan internal, situasi tersebut dibaca sebagai bentuk disharmoni perencanaan dan lemahnya sinkronisasi kepentingan antara organisasi serikat dan agenda politik yang melekat pada Said Iqbal.

Di saat yang sama, bara konflik juga menyala di tubuh FSPMI. Menjelang Kongres FSPMI pada Februari 2026, federasi terbesar di sektor industri ini dilanda persaingan keras dalam perebutan kursi Presiden/Ketua Umum. Kontestasi antara Suparno dan Abdul Bais membuka luka lama soal legitimasi kepemimpinan dan representasi kekuatan massa. Dukungan struktural pengurus lama yang condong ke Suparno berhadapan dengan klaim basis massa besar yang dimiliki Abdul Bais, sehingga memunculkan resistensi terbuka dan potensi pembelahan internal.

Bila ditarik ke level strategis, konflik di SPN dan FSPMI bukan sekadar persoalan organisasi internal. Keduanya selama ini merupakan tulang punggung mobilisasi KSPI dalam aksi-aksi nasional, baik di sektor industri maupun isu kebijakan ketenagakerjaan. Artinya, apabila permasalahan ini terus dieksploitasi dan diperbesar, dampaknya akan sangat signifikan terhadap kekuatan massa Said Iqbal. Penurunan loyalitas, fragmentasi dukungan, hingga melemahnya daya gerak aksi kolektif menjadi risiko nyata yang tak bisa diabaikan.

Situasi ini menempatkan Said Iqbal pada posisi krusial. Tanpa langkah cepat untuk meredam konflik, membangun kembali komunikasi, dan menyatukan agenda SPN serta FSPMI, KSPI berpotensi kehilangan soliditas internalnya. Dalam dinamika gerakan buruh, perpecahan di tingkat elite hampir selalu bermuara pada pelemahan basis massa. Dan ketika basis mulai terbelah, daya tawar politik pun ikut tergerus.

Dengan demikian, konflik SPN dan FSPMI hari ini dapat dibaca sebagai titik tekan strategis terhadap kepemimpinan Said Iqbal. Apakah situasi ini akan diredam melalui konsolidasi atau justru dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk memperbesar perpecahan, akan sangat menentukan arah dan kekuatan KSPI ke depan.