Kabar Netizen Terkini – Praktik premanisme yang melibatkan organisasi kemasyarakatan (ormas) kembali menuai sorotan dari para pelaku industri karena dinilai mengancam keamanan dan kelancaran operasional bisnis. Sejumlah ormas disebut-sebut kerap melakukan tekanan kepada pelaku usaha dengan tuntutan tertentu yang mengganggu aktivitas industri.

Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy PT Chandra Asri Petrochemical, Edi Rivai, mengungkapkan bahwa tindakan premanisme tersebut merusak iklim investasi dan menciptakan ketidakpastian dalam dunia usaha. Jika tidak segera ditangani oleh pemerintah, ia khawatir masuknya investasi ke Indonesia akan semakin tersendat.

“Kalau intimidasi terus terjadi, itu jelas membuat suasana usaha tidak kondusif, berpengaruh pada kinerja dan kepastian bisnis,” kata Edi.

Ia menuturkan, bentuk premanisme yang dilakukan oleh ormas bisa berbeda-beda tergantung pada lokasi kawasan industrinya. Salah satu contoh yang diungkapkan Edi terjadi di Cilegon, Banten, di mana sebuah perusahaan digeruduk, bahkan gerbangnya dikunci oleh oknum ormas. Insiden ini, menurutnya, merupakan bukti nyata bahwa tindakan semacam itu sudah melewati batas.

Edi menambahkan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di kawasan industri tempat Chandra Asri beroperasi, tetapi juga meluas ke daerah industri lainnya di Indonesia. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk mengambil langkah tegas guna menjamin kepastian hukum bagi dunia usaha serta mengakhiri praktik-praktik semacam itu.

Meski begitu, Edi menyebut pihaknya telah menerapkan pendekatan berbasis sosial untuk meredam potensi gesekan dengan masyarakat, seperti melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berupa pembangunan sekolah dan politeknik guna meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur. Ia menilai bahwa premanisme di sektor industri turut menjadi faktor penghambat dalam peningkatan ekspor mebel nasional.

Sebagai perbandingan, ia menyoroti Vietnam yang dinilai memiliki lingkungan industri yang jauh lebih aman dan kondusif, sehingga mampu mencatat nilai ekspor furnitur mencapai USD 20 miliar per tahun. Sementara itu, Indonesia masih tertahan di angka sekitar USD 2,5 miliar.

“Kalau Vietnam bisa menembus USD 20 miliar, artinya lingkungan industrinya mendukung. Mereka tumbuh pesat karena investasi bisa berkembang tanpa gangguan,” jelas Abdul saat berbicara di Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2025.