Kabar Netizen Terkini | Menjelang Lebaran 2025, ribuan buruh PT Yihong Novatex Indonesia di Cirebon harus menelan pil pahit. Sebanyak 1.126 dari total 1.500 karyawan perusahaan tekstil ini resmi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Keputusan ini bukan tanpa sebab—aksi mogok kerja yang berlangsung selama empat hari memicu lumpuhnya produksi dan berujung pada pemangkasan tenaga kerja besar-besaran.

Aksi mogok itu sendiri dipelopori oleh Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KASBI), yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap sejumlah kebijakan perusahaan. Tuntutan mereka berkisar pada upah yang dianggap tidak layak hingga desakan agar status karyawan kontrak diubah menjadi karyawan tetap.

Namun, narasi di balik aksi ini tak sepenuhnya hitam-putih. Pihak manajemen perusahaan menyebut mogok kerja itu menyebabkan keterlambatan produksi dan pembatalan sejumlah pesanan penting dari klien luar negeri. Alhasil, manajemen merasa perlu mengambil langkah tegas untuk menekan biaya operasional: merampingkan jumlah karyawan.

Siapa Salah, Siapa Benar?

Di balik angka 1.126 buruh yang kehilangan pekerjaan, muncul pertanyaan besar: apakah langkah PHK ini adil?

KASBI menuding perusahaan bertindak sepihak, tidak membuka ruang dialog yang layak, dan menggunakan alasan “kekurangan pesanan” sebagai tameng. Sementara pihak perusahaan berkeras bahwa mereka tidak punya pilihan lain karena terganggunya produksi selama mogok kerja berlangsung.

“Kalau memang tidak ada pesanan, kenapa produksi sebelumnya tetap jalan dan tidak ada tanda-tanda pelambatan?” kata salah satu buruh yang enggan disebut namanya saat diwawancarai media lokal.

Disnaker Turun Tangan

Melihat gejolak yang terjadi, Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Cirebon pun langsung turun tangan. Dalam pernyataannya, Kepala Disnaker Novi Hendrianto menegaskan bahwa PT Yihong tidak dalam kondisi bangkrut, sehingga PHK massal ini perlu dikaji ulang secara hukum dan administratif.

Belum ada keputusan final terkait hak kompensasi para buruh. Proses mediasi masih berlangsung, dan pihak Disnaker meminta manajemen membuka kembali peluang komunikasi.

Menjelang Lebaran, Buruh Gigit Jari

Yang membuat situasi ini makin getir adalah momentum PHK massal ini terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri. Banyak buruh kini tidak hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga harus memikirkan biaya hidup dan kebutuhan keluarga di tengah ketidakpastian ekonomi.

Kementerian Perindustrian pun ikut menyoroti kasus ini, mengingatkan bahwa industri padat karya seperti tekstil harus menjaga hubungan industrial agar tidak mengganggu stabilitas investasi.

Apa Kata Netizen?

Di media sosial, tagar #PHKYihong dan #KASBI sempat naik di jagat Twitter/X dan TikTok. Banyak netizen yang mempertanyakan peran KASBI dalam eskalasi konflik ini. Sebagian mendukung perjuangan serikat buruh, tapi tak sedikit pula yang menyayangkan strategi mogok kerja yang dinilai kontraproduktif menjelang momen penting seperti Lebaran.