Serang, Banten – Juni 2025
Di tengah gegap gempita proyek reklamasi Pantai Indah Kapuk 2 (PIK-2), suara penolakan dari masyarakat Banten justru nyaris tak terdengar di media arus utama. Hal ini disoroti tajam oleh Roy Suherman, perwakilan tim media dari Koalisi Rakyat Banten Melawan (KARBALA), yang menilai bahwa ada kekuatan besar di balik senyapnya pemberitaan tersebut.
“Minimnya pemberitaan dari media lokal maupun nasional terhadap perjuangan masyarakat Banten melawan proyek PIK-2 telah menimbulkan pertanyaan besar. Apakah independensi media masih ada ketika berhadapan dengan kepentingan korporasi besar?” ujar Roy dengan nada serius.
Media Alternatif Jadi Andalan
Merespons situasi ini, Roy menyatakan bahwa tim media Karbala akan mengambil sikap independen. Mereka bertekad menyuarakan kebenaran, memperjuangkan hak-hak masyarakat pesisir, serta menjaga kelestarian lingkungan dari ancaman ekspansi proyek reklamasi.
“Kami tidak akan diam. Kami akan terus menyuarakan perlawanan, mendokumentasikan ketidakadilan, dan menyebarkannya ke publik, baik melalui media sosial, kanal warga, hingga jejaring aktivis lingkungan,” tegasnya.
Melawan Hegemoni Informasi
KARBALA memandang bahwa hegemoni informasi yang dikendalikan oleh pengembang PIK-2 menjadi salah satu strategi halus untuk menekan resistensi publik. Dengan mengaburkan fakta di lapangan dan mengarahkan opini publik pada narasi pembangunan semu, masyarakat terdampak semakin terpinggirkan.
Namun, Roy dan timnya percaya bahwa media alternatif dan jurnalisme akar rumput bisa menjadi senjata melawan dominasi narasi elit. “Kami tidak punya modal besar, tapi kami punya semangat dan suara yang tulus dari rakyat,” tambahnya.
