Jakarta (kabarnetizenterkini.com) – Ketua Umum HMI Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Muhammad Falah Musyaffa, menegaskan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki hubungan historis yang erat dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam upaya membangun dan mempertahankan bangsa Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan Falah merespons sejumlah opini publik yang mempertanyakan posisi dan peran TNI di tengah perdebatan Revisi Undang-Undang TNI yang baru saja disahkan DPR RI.
“Apa yang salah dengan TNI? Apakah mereka institusi ilegal? Tentu tidak. Justru TNI adalah pilar utama pertahanan negara sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 30 ayat (3) UUD 1945,” tegas Falah, Sabtu (22/3/2025).
HMI dan TNI: Sejarah Perjuangan Sejak Masa Revolusi
Falah mengungkapkan, sejak didirikan oleh Lafran Pane pada 5 Februari 1947, HMI telah menunjukkan komitmen dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, kader-kader HMI pada masa itu turut berjuang di garis depan bersama Tentara Keamanan Rakyat (cikal bakal TNI) melawan agresi militer Belanda.
“Ini membuktikan bahwa sejak awal, HMI dan TNI memiliki tujuan yang sama: mempertahankan kedaulatan bangsa,” katanya.
Bersama TNI Menumpas Ancaman PKI
Falah juga mengingatkan peran HMI dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Bersama TNI, kader HMI menjadi bagian penting dalam menumpas pengaruh komunisme yang ingin menggantikan Pancasila.
“HMI aktif melawan PKI, memastikan bahwa ideologi negara tetap Pancasila. Bahkan, Ketua PKI DN Aidit pernah menyindir HMI sebagai penghalang utama PKI,” ujar Falah.
Ia mengutip pernyataan Aidit dalam pidatonya kepada CGMI (underbow PKI):
“Kalau kalian tidak bisa mengatasi HMI, pakai sarung saja.”
Menurut Falah, sindiran itu menunjukkan betapa strategis dan berpengaruhnya peran HMI dalam membendung komunisme saat itu.
Sinergi HMI dan TNI Harus Terus Diperkuat
Saat ini, kata Falah, tantangan Indonesia tidak hanya datang dari ancaman militer, tetapi juga dari ancaman siber, ideologi transnasional, dan infiltrasi budaya yang dapat melemahkan ketahanan nasional.
“Sinergi antara HMI dan TNI tetap penting dalam menghadapi ancaman kekinian. Baik itu terorisme, disinformasi digital, hingga ancaman ideologi asing yang bertentangan dengan Pancasila,” tegasnya.
Ia menambahkan, TNI adalah lembaga resmi yang memiliki legitimasi konstitusional, dan perlu didukung oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, dalam menjalankan tugas menjaga keutuhan NKRI.
Kesimpulan: Kolaborasi TNI dan HMI adalah Aset Strategis Bangsa
“Dari masa kemerdekaan, masa pemberontakan, hingga era digital saat ini, HMI dan TNI terus menjadi garda depan menjaga Indonesia. Hubungan historis dan ideologis ini adalah aset bangsa yang harus dirawat dan diperkuat,” pungkas Falah.
