Jakarta, 24 Oktober 2025 — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut tidak hanya menjadi instrumen peningkatan gizi anak, tetapi juga motor penggerak ekonomi masyarakat. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, menyatakan program ini mampu menciptakan lapangan kerja hingga 1,6 juta orang jika dijalankan secara optimal di seluruh Indonesia.

“MBG bukan sekadar program pemberian makanan sehat. Ini adalah gerakan sosial dan ekonomi yang bisa menghidupkan industri rakyat, memberdayakan petani, pemasok lokal, dan membuka banyak kesempatan kerja,” ujar Nanik dalam acara talkshow “Upaya Meningkatkan Kualitas Bangsa melalui MBG” di Antara Heritage Center, Jakarta, Kamis (23/10).

Menurut Nanik, hingga Oktober 2025 sudah terdapat 12.500 dapur MBG yang melayani 36 juta penerima manfaat, atau sekitar 40 persen dari target nasional sebanyak 83 juta anak. Setiap dapur MBG rata-rata mempekerjakan 50 orang, dan melibatkan 10–15 pemasok bahan pangan lokal, yang masing-masing menyediakan lapangan kerja bagi 5–10 pekerja tambahan.

“Kalau seluruh target tercapai, berarti ada sekitar 1,5 sampai 1,6 juta tenaga kerja yang terserap. Ini membuktikan MBG mampu membangun rantai ekonomi dari bawah, tidak hanya memberi makan anak-anak tetapi juga menghidupkan dapur-dapur rakyat,” jelasnya.

BGN menargetkan jumlah penerima manfaat MBG meningkat hingga 60 persen pada akhir Desember 2025. Meski begitu, Nanik mengakui masih terdapat berbagai kendala di lapangan, terutama soal kualitas dan keamanan pangan.

“Masih ada sejumlah persoalan teknis yang harus kami benahi, seperti kebersihan dapur dan mutu air yang digunakan. Dari hasil evaluasi terakhir, 112 dapur MBG ditutup sementara karena belum memenuhi standar kebersihan dan kelayakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, hasil uji laboratorium menunjukkan 72 persen kasus keracunan makanan di lapangan disebabkan oleh kualitas air yang buruk. Karena itu, BGN kini mewajibkan setiap dapur MBG menggunakan air galon yang difilter ultraviolet (UV) untuk menjamin kebersihan bahan pangan.

“Banyak daerah yang kualitas airnya memang belum memadai, misalnya di wilayah Bandung Barat yang tercemar akibat pembuangan limbah. Jadi, kami perketat standar penggunaan air dan sanitasi agar tidak menimbulkan dampak negatif,” tegas Nanik.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa MBG merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun generasi emas 2045, di mana anak-anak Indonesia diharapkan tumbuh dengan gizi seimbang, sehat, dan cerdas.

“Tujuan akhir program ini adalah mencetak generasi masa depan yang kuat secara fisik dan mental. Karena itu, kami terus memperbaiki tata kelola serta memastikan semua dapur MBG memenuhi standar mutu yang tinggi,” tutupnya.