Jakarta – Sejumlah kelompok mahasiswa kembali berencana menggelar aksi dengan tajuk “Indonesia Sold Out, Kita Belum Merdeka”. Isu yang diusung—mulai dari lawan militerisme, tolak kapitalisme-imperialisme, hingga ganyang oligarki—mungkin terdengar heroik, namun sesungguhnya jauh dari kebutuhan nyata masyarakat saat ini.

Mayoritas rakyat Indonesia sedang menghadapi tantangan harga pangan, lapangan kerja, hingga kepastian hidup pasca pandemi. Sayangnya, tuntutan abstrak seperti yang digelorakan para demonstran justru tak menyentuh akar persoalan rakyat kecil.

Lebih jauh, aksi semacam ini rawan ditunggangi pihak-pihak yang tak ingin Indonesia stabil. Slogan Indonesia Sold Out jelas bukan solusi, melainkan provokasi yang berpotensi merusak citra bangsa sendiri.

Di sisi lain, pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah bekerja keras menghadirkan program konkret: mulai dari Makan Bergizi Gratis bagi anak sekolah, penguatan jaminan sosial dan kesehatan, subsidi energi, hingga penciptaan lapangan kerja baru di sektor strategis. Inilah kerja nyata yang langsung dirasakan rakyat, bukan sekadar retorika jalanan.

Aksi turun ke jalan dengan isu ideologis usang tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga berpotensi menghambat agenda pembangunan nasional. Indonesia membutuhkan persatuan, bukan perpecahan. Indonesia membutuhkan stabilitas, bukan provokasi.

Rakyat sudah lelah dengan teriakan kosong. Saatnya kita semua mendukung pemerintah bekerja demi kesejahteraan bersama. Karena hanya dengan kerja nyata, Indonesia bisa benar-benar maju, aman, dan sejahtera.