#image_title

Jakarta Selatan – Konsolidasi Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) kembali dJakarta Selatan – Konsolidasi Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) kembali digelar secara luring di Selasar Bata Merah Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ), Pondok Labu, Senin (23/2/2026) malam. Forum yang diikuti sekitar 70 mahasiswa lintas kampus ini membahas isu pendidikan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta evaluasi kebijakan keamanan.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian konsolidasi nasional mahasiswa untuk merumuskan arah gerakan dan strategi komunikasi publik ke depan.


Isu Pendidikan dan MBG Jadi Agenda Utama

Dalam konsolidasi, mahasiswa menyoroti persoalan pembiayaan pendidikan, termasuk dampak kebijakan yang dinilai memberatkan mahasiswa kurang mampu. Keluhan terkait fasilitas jaminan kesehatan juga disebut berdampak pada akses pendidikan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi bahan evaluasi. Forum menyinggung perlunya peningkatan pengawasan dan perbaikan prosedur pelaksanaan agar tepat sasaran serta meminimalisir potensi risiko di lapangan. Narasi yang berkembang menekankan pentingnya transparansi anggaran dan efektivitas kebijakan sosial.

Isu pendidikan dan MBG dinilai memiliki daya resonansi luas karena menyentuh langsung kepentingan mahasiswa dan masyarakat.


Kritik Kebijakan Keamanan dan Isu Brimob

Selain isu sosial, forum juga membahas dugaan tindakan represif aparat di sejumlah wilayah, termasuk Maluku. Kritik diarahkan pada pendekatan pengamanan aksi yang dinilai perlu dievaluasi agar lebih humanis dan akuntabel.

Meski demikian, peserta konsolidasi menekankan pentingnya menjaga gerakan tetap tertib dan tidak anarkis. Demonstrasi dinilai harus memiliki kajian akademik yang kuat dan output konkret agar tidak sekadar menjadi agenda rutin tanpa hasil.


Rebranding Gerakan: Dari “Indonesia Darurat” ke “Selamatkan Indonesia”

Menariknya, forum mengusulkan perubahan tagline dari “Indonesia Darurat” menjadi “Selamatkan Indonesia.” Pergeseran istilah ini disebut sebagai strategi komunikasi agar gerakan lebih solutif dan tidak terkesan konfrontatif.

Selain itu, muncul gagasan platform baru bertajuk “Bangun Ulang Indonesia” sebagai wadah konsolidasi berbasis kajian dan diskusi publik. Rencana tindak lanjut mencakup:

  • Konsolidasi lanjutan di masing-masing kampus.
  • Penyelenggaraan FGD dan diskusi publik terkait pendidikan dan MBG.
  • Penguatan satu komando gerakan agar lebih terorganisir.

Analisis: Penguatan Jaringan dan Strategi Komunikasi

Konsolidasi BEM SI di UPNVJ menunjukkan beberapa tren penting:

1. Penguatan Isu Sosial-Ekonomi
Isu pendidikan dan MBG menjadi pintu masuk kritik kebijakan yang lebih luas.

2. Strategi Narasi Lebih Moderat
Perubahan tagline menunjukkan upaya memperluas simpati publik dan membangun citra gerakan yang solutif.

3. Potensi Mobilisasi Lintas Kampus
Dengan partisipasi sekitar 70 mahasiswa dari berbagai kampus, terdapat indikasi penguatan jaringan Jabodetabek dan PTKIN.

4. Tantangan Soliditas Internal
Pengakuan bahwa gerakan sebelumnya kurang fokus menjadi catatan penting dalam menjaga konsistensi arah gerakan.


Momentum Dialog dan Evaluasi Kebijakan

Dinamika ini menjadi momentum penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk membuka ruang dialog dan memperkuat evaluasi kebijakan publik, khususnya di sektor pendidikan dan program sosial.

Apakah gerakan “Selamatkan Indonesia” akan berkembang menjadi konsolidasi nasional yang solid atau tetap terbatas pada diskursus kampus, akan sangat bergantung pada konsistensi strategi dan respons kebijakan dalam waktu dekat.