#image_title

Jakarta – Kongres FSPMI yang akan digelar pada 8 sampai 10 Februari 2026 di Hotel Mercure Ancol dipastikan bukan sekadar agenda lima tahunan. Kongres ini menjelma menjadi arena pertarungan kekuasaan paling menentukan dalam sejarah FSPMI, yang secara langsung menguji dominasi Said Iqbal di tubuh gerakan buruh nasional.

Informasi dari Djaeni, orang kepercayaan Said Iqbal, mengungkap bahwa sejak awal Februari, Said Iqbal turun langsung mengawal konsolidasi politik untuk Suparno, kandidat Presiden FSPMI yang disebut sebagai figur binaan langsung. Konsolidasi dilakukan beruntun di Tangerang, Bekasi, hingga Purwakarta, hanya beberapa hari sebelum kongres dimulai indikasi kuat adanya kampanye internal agresif demi mengamankan kursi pimpinan.

Namun langkah ini justru membuka konflik terbuka. Di sisi lain, muncul H. Bais, kandidat kuat yang bukan hanya memiliki basis struktural, tetapi juga menguasai mesin logistik organisasi. Djaeni menyebut, bidang yang dipimpin H. Bais mampu menghimpun sekitar Rp650 juta per bulan dari iuran wajib anggota. Dari jumlah tersebut, 45% mengalir ke FSPMI pusat, sementara 55% dikelola langsung untuk kegiatan PUK mulai dari pelatihan, agenda buruh, hingga konsolidasi lapangan.

Yang paling krusial, setelah seluruh kegiatan dibiayai, kelompok H. Bais masih menyisakan cadangan dana Rp200 s.d. 250 juta setiap bulan. Angka ini menjadikan H. Bais bukan sekadar kandidat, melainkan poros kekuatan finansial yang selama ini ikut menopang keberlangsungan FSPMI. Tak heran jika hingga kini H. Bais menolak tunduk pada rekomendasi Said Iqbal dan tetap maju sebagai penantang serius Suparno.

Kongres yang akan diikuti sekitar 1.500 peserta dari berbagai daerah ini sepenuhnya dibiayai dari iuran peserta sebesar Rp1,5 juta per PUK/per daerah, sementara tiket pesawat PP ditanggung FSPMI pusat. Fakta ini menegaskan bahwa iuran anggota masih menjadi sumber utama napas politik faksi Said Iqbal dan sekaligus menjadi titik rawan jika konflik internal kian membesar.

Lebih dari sekadar pemilihan Presiden FSPMI, kongres ini menjadi momentum strategis untuk menggoyang bahkan memecah kekuatan Said Iqbal. Jika Suparno menang, Said Iqbal mempertahankan kendali. Namun jika H. Bais berhasil merebut kursi Presiden, maka akan tercipta pusat kekuasaan baru di luar kontrol Said Iqbal dengan modal kuat, jaringan solid, dan legitimasi struktural.

Dengan dua kandidat sama-sama kuat dan sama-sama enggan mengalah, FSPMI berada di persimpangan sejarah. Kongres Ancol berpotensi menjadi awal fragmentasi serius dalam gerakan buruh metal Indonesia dan dampaknya bisa menjalar jauh ke dinamika KSPI dan peta politik perburuhan nasional. Satu hal pasti: pertarungan ini bukan lagi soal ideologi buruh, melainkan soal siapa yang menguasai struktur dan uang. Dan jawabannya akan ditentukan dalam hitungan hari