Lumajang — Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang mengkhawatirkan. Pada Rabu (19/11/2025), gunung tertinggi di Pulau Jawa itu meluncurkan awan panas guguran sejauh 7 kilometer ke arah kawasan Kobokan. Guguran awan panas tampak membumbung tinggi dengan warna kelabu pekat, menandakan intensitas letusan yang cukup besar.

Pemerintah Kabupaten Lumajang langsung menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari, mulai 19 hingga 26 November 2025, untuk mempercepat penanganan dampak bencana.

Material awan panas dan abu vulkanik menghantam dua wilayah terdampak terparah, yaitu Dusun Sumber Sari dan Dusun Kamar A, Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo. Sejumlah rumah warga tampak porak-poranda, atap runtuh, serta halaman rumah tertutup abu tebal.

Pohon-pohon di sekitar permukiman juga terlihat diselimuti abu vulkanik, menandakan kuatnya terpaan material panas ketika meluncur dari puncak Semeru.

Tak hanya bangunan dan lingkungan, sektor ekonomi masyarakat pun terdampak. Sejumlah ternak milik warga ditemukan mati akibat terjangan awan panas. Kondisi ini menambah beban warga yang kini terpaksa mengungsi dan kehilangan sumber penghidupan.

BPBD Lumajang bersama TNI, Polri, relawan, dan perangkat desa terus melakukan evakuasi warga di zona rawan. Pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas dalam radius berbahaya serta tetap mengikuti arahan petugas di lapangan.

Hingga kini, tim gabungan masih melakukan pendataan kerusakan, penanganan korban, serta pembersihan akses menuju lokasi terdampak.