Jakarta — Polisi akhirnya mengungkap cara anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang menjadi pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta memperoleh bahan untuk merakit peledak. Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menunjukkan bahwa pelaku mendapatkan hampir seluruh material melalui pembelian daring tanpa menimbulkan kecurigaan keluarga.

Dansat Brimob Polda Metro Jaya, Kombes Henik Maryanto, menjelaskan bahwa analisis laboratorium menggunakan alat rigaku mengidentifikasi kandungan potassium chloride sebagai bahan utama peledak. Temuan itu diperkuat dengan sejumlah material lain yang ditemukan berserakan di lokasi ledakan, termasuk paku baja dan paku seng, yang diduga digunakan sebagai serpihan penghantar daya rusaknya ledakan.

Selain itu, serpihan plastik diduga berasal dari pembungkus dan jeriken plastik berkapasitas 1 liter yang dijadikan wadah bom.

Pada proses pemeriksaan, tim penyidik juga menemukan empat buah baterai A4 sebagai sumber daya dan electric mass sebagai inisiator pemicu ledakan. Polisi menyebutkan perangkat tersebut seharusnya terhubung dengan sistem receiver yang dikendalikan dari jarak jauh melalui remote.

Namun, perangkat remote tidak ditemukan di lokasi utama ledakan, yaitu area masjid sekolah.

Kombes Henik menegaskan penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan apakah remote sempat digunakan atau disembunyikan oleh pelaku sebelum insiden terjadi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menuturkan, dari hasil pemeriksaan awal, pelaku diduga membeli bahan-bahan tersebut secara online. Paket diterima langsung oleh keluarga, tanpa menimbulkan kecurigaan.

“Orang tua menerima paket karena diberi alasan untuk keperluan ekstrakurikuler sekolah. Jadi mereka tidak menduga apapun,” jelas Budi.

Pelaku juga mengaku laptopnya rusak. Namun, penyidikan menunjukkan bahwa ia justru menggunakan perangkat itu untuk mengakses dark web. Laptop tersebut kini telah disita untuk dilakukan digital forensik.

Keluarga menyebut ABH memiliki sifat pendiam sejak lama. Mereka tidak menyangka anak tersebut terlibat dalam perakitan peledak.

Pelaku sendiri ikut mengalami luka dalam insiden tersebut dan baru beberapa hari lepas dari selang makan. Hingga kini, kondisi fisiknya masih belum stabil.

Menurut Kombes Budi, penyidik masih menunggu rekomendasi dokter, termasuk dokter psikis, untuk memastikan apakah pelaku sudah siap memberikan keterangan.

“Dia masih sering merasa pusing, mual, dan kadang tampak belum sepenuhnya pulih. Dokter belum merekomendasikan pemeriksaan mendalam,” ujar Budi.

Penyidik menegaskan bahwa proses pemeriksaan terhadap ABH akan dilakukan setelah ia dinyatakan stabil secara fisik dan psikis.