
Surabaya, 16 September 2025 – Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI) Wilayah VII Jawa Timur menilai upaya meruntuhkan legitimasi institusi negara melalui isu provokatif semakin berbahaya bagi persatuan nasional. Mereka mengingatkan bahwa serangan informasi yang memojokkan lembaga negara, khususnya Tentara Nasional Indonesia (TNI), dapat merusak kepercayaan masyarakat dan membuka celah perpecahan.
Ketua ISMEI Jatim, Naufal Gama Affandyar, menegaskan pentingnya sinergi mahasiswa dengan TNI untuk menghadirkan solusi nyata. Menurutnya, delegitimasi bukan sekadar wacana politik, tetapi ancaman serius yang bisa melemahkan fondasi bangsa. “Mahasiswa dan TNI harus hadir bersama-sama, bukan hanya menjaga kedaulatan, melainkan juga memastikan rakyat tetap percaya pada negara,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Naufal menilai bahwa tantangan Indonesia saat ini tidak hanya terkait kekuatan militer atau stabilitas ekonomi, tetapi juga serangan informasi yang merongrong kepercayaan publik. “Begitu rakyat kehilangan keyakinan terhadap institusi negara, maka kerentanan bangsa semakin besar. Kolaborasi nyata antara mahasiswa dan TNI sangat dibutuhkan untuk menjaga soliditas bangsa,” tegasnya.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, jumlah mahasiswa aktif di Indonesia mencapai lebih dari 8,9 juta orang, sedangkan laporan The Military Balance 2025 mencatat personel TNI sebanyak 404.500 orang. Naufal menilai, jika kedua kekuatan ini berjalan seiring, dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kebersamaan mahasiswa dan TNI bisa menjadi benteng kuat melawan upaya pelemahan negara. “Sinergi ini bukan sekadar simbolik, tetapi bentuk nyata bahwa bangsa Indonesia solid dan siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.
