JAKARTA – kabarnetizenterkini.com | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,41 persen atau 28,02 poin ke posisi 6.926,2 pada perdagangan Rabu, 7 Mei 2025. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga saham di sektor tambang emas, terutama saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang melonjak hingga 8,27 persen.

Selain ANTM, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga terapresiasi 4,21 persen, sementara saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan kenaikan sebesar 0,55 persen dan turut menopang penguatan IHSG sepanjang hari.

Menurut Rudy Setiawan, Deputy Head of Research MNC Sekuritas, saham-saham tambang emas seperti ANTM, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menjadi katalis utama penguatan pasar karena minat investor terhadap komoditas emas meningkat.

“Emas saat ini menjadi salah satu komoditas paling menjanjikan. Selain sebagai aset lindung nilai, tren harga emas juga sedang naik, sehingga saham-saham tambang emas bergerak positif,” ujar Rudy.

Faktor Global: Penundaan Tarif AS Jadi Katalis Pasar

Rudy juga menyoroti pentingnya arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Penundaan kebijakan tarif dagang oleh Presiden AS Donald Trump disebut berpotensi mempengaruhi harga komoditas secara global.

“Investor perlu mencermati apakah penundaan tarif ini akan bersifat sementara atau dihapuskan sepenuhnya. Jika benar-benar dihapus, harga komoditas kemungkinan akan rebound signifikan,” katanya.

Menurut Rudy, jika situasi global mendukung, emiten sektor tambang di Indonesia bisa mencatat pertumbuhan kinerja di atas 5 persen tahun ini.

“Dari seluruh komoditas, emas adalah yang paling konsisten menunjukkan tren naik. Ini akan membantu menopang pertumbuhan emiten tambang di 2025, meskipun risiko dari kondisi pasar tetap ada,” tambahnya.

Statistik Perdagangan Hari Ini: Mayoritas Saham Menguat

Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.909 hingga 6.970. Data mencatat:

  • 314 saham menguat
  • 271 saham melemah
  • 214 saham stagnan

Optimisme pasar tetap terjaga seiring dengan tingginya minat investor pada saham berbasis komoditas, terutama di tengah ketidakpastian global.