JAKARTA – Influencer sekaligus analis isu publik, Benny Batara Tumpal Hutabarat atau yang dikenal sebagai Bennix, menyampaikan sejumlah pandangannya terkait geopolitik, kedaulatan ekonomi, hingga penguatan komunikasi pemerintah di era digital.
Dengan latar belakang pendidikan hukum dari Universitas Indonesia dan studi lanjutan di Universitas Leiden, serta pengalaman advokasi di LBH Jakarta pada era Adnan Buyung Nasution, Bennix melihat isu nasional bukan sekadar polemik politik, melainkan bagian dari kontestasi kepentingan global yang lebih luas.
Waspada Pengaruh Asing di Sektor Strategis
Menurut Bennix, Indonesia saat ini berada dalam posisi strategis, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam seperti nikel dan bauksit. Ia menilai keberadaan lembaga atau aktor asing di wilayah dengan potensi tambang besar perlu dicermati secara objektif.
“Isu lingkungan dan ekonomi sering kali tidak berdiri sendiri. Ada dimensi geopolitik di baliknya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa hilirisasi dan penguatan industri nasional merupakan langkah tepat pemerintah dalam menjaga nilai tambah di dalam negeri. Stabilitas kebijakan, menurutnya, menjadi faktor penting agar Indonesia tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah.
Kedaulatan Informasi dan Narasi Publik
Bennix juga menyoroti pentingnya kedaulatan informasi. Ia mengungkapkan pandangannya mengenai dugaan pengaruh filantrop global George Soros dalam pendanaan sejumlah media dan lembaga di Indonesia, seperti Tempo dan Tifa Foundation.
Meski tudingan tersebut belum pernah dibuktikan secara hukum, ia menilai kewaspadaan terhadap potensi intervensi opini publik tetap penting dalam konteks menjaga kepentingan nasional.
“Di era digital, perang bukan hanya soal militer, tapi juga soal persepsi dan framing,” katanya.
Bank Indonesia dan Arah Kebijakan Ekonomi
Dalam pandangannya, peran Bank Indonesia sangat krusial dalam menjaga stabilitas moneter. Ia berpandangan bahwa bank sentral harus memiliki komitmen kuat terhadap kepentingan nasional agar kebijakan ekonomi tetap berpihak pada stabilitas dan pertumbuhan.
Bennix menyatakan dukungannya terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kontrol nasional atas sektor strategis, termasuk kebijakan moneter.
Ia juga membandingkan model ekonomi Tiongkok yang dinilai memiliki kontrol negara lebih kuat terhadap sektor keuangan dan industri strategis. Sementara itu, sistem di Singapura yang sering dikaitkan dengan pemikiran Lee Kuan Yew disebutnya sebagai contoh stabilitas yang terjaga melalui tata kelola yang disiplin.
Kritik Konstruktif untuk Pemerintah
Meski mendukung arah kebijakan pemerintah, Bennix menilai manajemen komunikasi publik masih perlu diperkuat. Ia berpandangan bahwa capaian pemerintah kerap tenggelam oleh framing negatif di ruang digital.
Menurutnya, pemerintah perlu memiliki unit komunikasi strategis berbasis analisis data dan sentimen publik untuk membangun kontra narasi secara cepat dan terukur.
“Kerja sudah banyak, tapi narasinya sering kalah cepat. Padahal stabilitas sosial dan politik sangat bergantung pada persepsi publik,” ujarnya.
Komitmen untuk Stabilitas Nasional
Bennix menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi melalui penguatan literasi digital dan narasi kebangsaan. Baginya, dukungan terhadap pemerintah bukan sekadar posisi politik, melainkan bagian dari tanggung jawab moral untuk menjaga kondusivitas nasional.
Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, ia menilai Indonesia membutuhkan soliditas internal, stabilitas ekonomi, dan penguatan kedaulatan informasi. Kolaborasi antara pemerintah dan aktor media digital dinilai menjadi salah satu kunci untuk memastikan arah pembangunan tetap terjaga dan tidak mudah terombang-ambing oleh arus disinformasi.

