Jakarta, 23 Januari 2026 – Curah hujan ekstrem yang mengguyur Ibu Kota sejak Kamis malam (22 Januari 2026) hingga Jumat siang terus memicu banjir Jakarta parah di berbagai wilayah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan, hingga pukul 12.00 WIB hari ini, sebanyak 143 Rukun Tetangga (RT) masih terendam genangan air di lima wilayah administrasi kota. Jakarta Selatan mendominasi dengan 66 RT terdampak, diikuti Jakarta Barat (40 RT), Jakarta Timur (30 RT), Jakarta Pusat (5 RT), dan Jakarta Utara (2 RT).Genangan air juga melumpuhkan 16 ruas jalan strategis, menyebabkan kemacetan parah, kendaraan mogok, dan gangguan mobilitas warga. Ketinggian air bervariasi dari 10 cm hingga mencapai 120 cm (1,2 meter) di titik-titik terparah. Kawasan Rawa Buaya dan Duri Kosambi di Jakarta Barat mencatat kedalaman hingga 120 cm, sementara Cipulir di Jakarta Selatan tembus 1,2 meter – membuat warga harus menggunakan perahu karet untuk beraktivitas sehari-hari.Penyebab utama banjir kali ini adalah hujan deras berkepanjangan disertai luapan sungai-sungai besar. Di Jakarta Barat, muka air Cengkareng Drain yang masih tinggi menjadi penghambat utama aliran air ke laut. Debit tinggi dari Kali Angke dan Kali Pesanggrahan memperburuk situasi, terutama di sekitar flyover Pesing dan kawasan rawan seperti Srengseng Raya, Daan Mogot KM 13, serta Kapuk.Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin, menjelaskan, “Dari lima wilayah, saat ini hanya Jakarta Barat yang belum surut sepenuhnya karena Cengkareng Drain tinggi muka airnya masih tinggi. Kami fokuskan semua tenaga, alat, dan pompa ke sana sambil menunggu fase surut air laut agar drainase optimal.”Untuk menangani darurat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah ekstrem: seluruh pompa statis dan mobile dari berbagai wilayah dipusatkan ke Jakarta Barat. Koordinasi lintas dinas melibatkan Dinas SDA, Dinas Bina Marga, serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) untuk mempercepat penyedotan genangan dan memastikan tali air berfungsi maksimal.Di sisi pencegahan jangka panjang, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana normalisasi Kali Cakung Lama sepanjang 2 km di Jakarta Utara. Sungai yang semula lebar 15-20 meter kini menyempit drastis menjadi hanya 2 meter akibat pendangkalan, pembuangan sampah, dan pembangunan liar di bantaran. Program ini ditargetkan mengatasi banjir berulang di kawasan Kelapa Gading, Sukapura, Cilincing, dan Pegangsaan Dua.“Setelah banjir berulang dalam dua minggu terakhir, masyarakat mulai mendukung program normalisasi ini,” ujar Pramono. Pemerintah juga memperpanjang operasi modifikasi cuaca hingga 27 Januari 2026 guna mengurangi intensitas hujan ekstrem di wilayah Jabodetabek.Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini untuk Sabtu, 24 Januari 2026. Cuaca ekstrem diprediksi berlanjut dengan hujan lebat disertai petir dan angin kencang hingga 43 km/jam sepanjang hari – mulai dini hari hingga malam. Suhu udara berkisar 23-28°C dengan RealFeel mencapai 34°C di siang hari, dan kelembapan ekstrem hingga 96%. Potensi banjir kilat, genangan mendadak, pohon tumbang, serta papan reklame roboh menjadi ancaman serius.Berikut daftar sebagian titik banjir terparah berdasarkan data BPBD DKI Jakarta (per 23 Januari 2026 pukul 12.00 WIB):

  • Jakarta Barat: Rawa Buaya (45-120 cm), Duri Kosambi (50-120 cm), Kedaung Kali Angke (80 cm), Kapuk (50-65 cm).
  • Jakarta Selatan: Cipulir (120 cm), Petogogan (30 cm, 26 RT), Ulujami (70 cm).
  • Jakarta Timur: Cipinang Melayu (30-90 cm, 15 RT), Kampung Melayu (75-100 cm).
  • Ruas jalan tergenang: Jl. Daan Mogot, Srengseng Raya, Kapuk Bongkaran, Peternakan II, dan lainnya.

Warga diimbau memantau update real-time melalui aplikasi JAKI, situs resmi BPBD DKI Jakarta, atau akun media sosial pemerintah. Hindari melintasi genangan dalam, gunakan jalur alternatif, dan tetap waspada terhadap cuaca buruk yang diprediksi berlanjut.Banjir Jakarta 2026 ini menjadi pengingat keras bahwa solusi struktural seperti normalisasi sungai, peningkatan kapasitas pompa, dan pengelolaan drainase harus dipercepat. Pantau terus perkembangan banjir Jakarta hari ini dan tetap aman di tengah musim hujan ekstrem!