Kabar Netizen Terkini – Jakarta, 21 Mei 2025 Aksi unjuk rasa yang digelar oleh mahasiswa Universitas Trisakti di depan Gedung Balaikota DKI Jakarta pada Rabu sore berujung bentrok. Aksi yang menuntut penyelesaian Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 dan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada empat mahasiswa korban tragedi tersebut, sempat diwarnai insiden kekerasan terhadap aparat kepolisian.
Sekitar 50 mahasiswa dipimpin oleh Faiz Nabawi selaku Ketua Presiden Mahasiswa Trisakti tiba di lokasi pukul 16.35 WIB dengan membawa mobil sound system dan alat pengeras suara. Massa aksi sempat berusaha memasuki area Balaikota namun dihalau oleh petugas, yang memicu insiden pemukulan terhadap anggota Polri. Akibatnya, enam personel polisi mengalami luka-luka ringan hingga lebam di bagian kepala dan wajah.
Kapolres Metro Jakarta Pusat yang berada di lokasi segera mengambil langkah tegas dengan menghimbau massa untuk tertib dan meminta pertanggungjawaban dari pelaku pemukulan. Pada pukul 16.50 WIB, aparat berhasil mengamankan sejumlah provokator dan membawa mereka ke mobil tahanan Polres Metro Jakarta Pusat.
Pemeriksaan identitas dilakukan terhadap seluruh peserta aksi, disertai pemeriksaan barang bawaan. Empat unit sepeda motor yang tidak dilengkapi kunci kontak turut diamankan oleh petugas dan dibawa ke Polda Metro Jaya. Negosiasi sempat dilakukan antara perwakilan massa dengan Wakapolres, namun diputuskan bahwa seluruh peserta tetap akan dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sekitar pukul 17.50 WIB, sebanyak 85 mahasiswa dibawa ke Polda Metro Jaya menggunakan dua bus, disusul oleh 43 sepeda motor yang diangkut petugas. Aksi dinyatakan selesai pukul 18.10 WIB dengan situasi yang telah kembali kondusif.
Dari delapan nama yang diamankan, termasuk pimpinan aksi Faiz Nabawi, mayoritas berasal dari wilayah Jabodetabek dan tercatat sebagai mahasiswa aktif. Sementara itu, nama-nama personel kepolisian yang mengalami luka telah dicatat untuk proses lebih lanjut.
Aksi ini menjadi catatan penting atas dinamika gerakan mahasiswa yang masih menggugah isu reformasi, namun diwarnai eskalasi yang memerlukan pengendalian ketat dari aparat serta pendekatan dialogis yang lebih efektif ke depannya.
