#image_title

Yogyakarta – Sejumlah pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) lintas kampus di DIY menggelar konsolidasi pada 21 Februari 2026 di Kobesah Kopi UAD, Banguntapan, Bantul. Forum tersebut membahas rencana kegiatan Refleksi Bulan Ramadhan bertema #SehariTanpaKritikPemerintah yang diinisiasi BEM NUS DIY.

Konsolidasi dipimpin Sdr. Miftahun Ni’am selaku Ketua Korda BEM NUS DIY dan diikuti sekitar 20 peserta dari unsur pimpinan BEM serta organisasi eksternal mahasiswa di wilayah DIY.

Awal Program Kerja dan Respons Lintas BEM

Menurut penyelenggara, kegiatan ini merupakan bagian dari program awal BEM NUS DIY dalam menyambut bulan Ramadhan. Sebelumnya, konsolidasi pertama digelar di Talabumi Coffee, Banguntapan, yang menghadirkan pimpinan BEM DIY dan organisasi eksternal mahasiswa.

Dari forum tersebut, muncul respons positif untuk mengembangkan gagasan menjadi diskusi terbuka lintas BEM DIY, sebagai ruang aspiratif yang mendorong mahasiswa berperan sebagai mitra pemerintah yang kritis, substansif, dan beradab.

Format Kegiatan dan Agenda Diskusi

Hasil konsolidasi internal menetapkan kegiatan dalam bentuk:

  • Diskusi dan Ngabubu-Read
  • Tema: Menyambut Ramadhan, Sehari Tanpa Kritik Pemerintah
  • Subtema: Apakah Mahasiswa Masih Perlu Peduli?

Agenda pembahasan meliputi:

  1. Ramadhan, etika publik, dan ruang kritik
  2. Kritik dalam demokrasi: ancaman atau kebutuhan
  3. Mahasiswa dan pergeseran peran sosial-politik
  4. Relevansi dan batas etis kritik terhadap kebijakan
  5. Masa depan gerakan mahasiswa: diam, adaptif, atau melawan

Kegiatan direncanakan berlangsung pada 25 Februari 2026 di Joglo Plumbon, Yogyakarta, dengan estimasi peserta sekitar 100 orang dari kalangan mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum.

Bangun Ruang Dialog Terbuka

Penyelenggara menyebut kegiatan ini sebagai ikhtiar intelektual untuk merawat nalar mahasiswa dalam ruang kebebasan berekspresi, sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa kritik merupakan bagian dari kontrol sosial yang perlu disampaikan secara etis dan konstruktif.

Secara substansi, forum ini diarahkan untuk memperkuat dialog akademik yang inklusif dan rasional, serta membuka ruang refleksi mengenai posisi mahasiswa dalam dinamika demokrasi dan politik nasional.

Analisis: Mitra Kritis atau Reorientasi Gerakan?

Dari sudut pandang dinamika organisasi mahasiswa, kegiatan ini menunjukkan upaya BEM NUS DIY membangun pendekatan dialogis dibandingkan mobilisasi aksi. Diskusi dan kajian diposisikan sebagai instrumen intelektual dalam membentuk mahasiswa sebagai mitra kritis pemerintah, tanpa meninggalkan fungsi kontrol sosial.

Langkah tersebut juga mencerminkan adanya diferensiasi strategi gerakan mahasiswa di DIY, yang sebagian memilih pendekatan deliberatif melalui forum akademik terbuka.