#image_title

Yogyakarta – Dinamika internal organisasi mahasiswa kembali mencuat setelah Koordinator Wilayah (Korwil) BEM SI Jateng–DIY menyatakan sikap abstain terhadap instruksi Korpus BEM SI Pusat terkait agenda kajian, konsolidasi, dan aksi menyikapi isu pendidikan, MBG, serta pencabutan BPJS.

Informasi tersebut diperoleh pada 20 Februari 2026 melalui komunikasi dengan Sdr. Faturahman, Ketua Kordum FBD/BEM SI UNJAYA, yang sebelumnya mengikuti konsolidasi BEM SI Jateng–DIY pada 19 Februari 2026 di Kampus Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Pergantian Kepemimpinan Korwil

Dalam konsolidasi yang dihadiri sekitar 15 peserta dari sejumlah kampus di DIY, disepakati penunjukan Sdr. Fuad Baihaqi (Presma UPN 2025) sebagai pengganti Sdr. Rajes Singh (Presma UNY) yang diberhentikan oleh Mahkamah Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta.

Pergantian antar waktu tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi stabilitas dan arah gerak organisasi di tingkat wilayah.

Sikap Abstain sebagai Bentuk Protes

Korwil BEM SI Jateng–DIY memutuskan tidak mengikuti seruan Korpus BEM SI Pusat untuk melakukan kajian dan aksi terkait isu pendidikan, MBG, serta BPJS. Sikap tersebut disebut sebagai bentuk protes terhadap legitimasi kepemimpinan BEM SI Pusat hasil Munas Padang.

Langkah ini menandai adanya friksi struktural antara tingkat wilayah dan pusat, yang berpotensi memengaruhi konsolidasi gerakan mahasiswa secara nasional.

Fokus Pembenahan Internal

Alih-alih mengikuti agenda aksi pusat, BEM SI Jateng–DIY memilih melakukan pembenahan internal guna menyatukan persepsi dan arah gerakan yang dinilai lebih independen dan bebas dari kepentingan tertentu.

Dalam rangka menjaga keberlanjutan aktivitas, BEM SI Korwil Yogyakarta disebut akan berkolaborasi dengan Forum BEM Se-DIY (FBD) dalam menyikapi isu serta kemungkinan penggabungan massa dalam kegiatan bersama.

Analisis: Dampak terhadap Peta Gerakan Mahasiswa

Sikap abstain ini menunjukkan dua hal utama:

  1. Terjadi krisis legitimasi di tubuh BEM SI Pusat yang berdampak langsung pada soliditas wilayah.
  2. Korwil Jateng–DIY tengah memprioritaskan stabilisasi internal dibanding mobilisasi eksternal.

Jika konflik internal tidak segera terselesaikan, potensi fragmentasi gerakan mahasiswa di tingkat nasional dapat semakin melebar. Namun di sisi lain, langkah konsolidasi internal juga bisa menjadi momentum restrukturisasi yang lebih independen di tingkat wilayah.