JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengungkap alasan di balik pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Dalam sesi dialog bersama Chairman and Editor in Chief Forbes, Malcolm Stevenson Jr. atau Steve Forbes, Rabu (15/10/2025), Prabowo menjelaskan bahwa gagasan MBG telah ia rancang sejak tahun 2023, jauh sebelum menjabat sebagai presiden.
Prabowo mengatakan ide tersebut lahir dari pengalamannya langsung saat berkeliling ke berbagai desa selama masa kampanye pemilihan presiden. Ia mengaku terkejut melihat kondisi anak-anak di pedesaan yang banyak mengalami malnutrisi dan stunting.
“Setiap kali saya datang ke desa, saya berbicara dengan anak-anak. Ketika saya tanya usia mereka, saya sering terkejut. Anak laki-laki yang saya kira berusia empat tahun ternyata berumur sepuluh tahun. Begitu juga anak perempuan yang tampak seperti lima tahun, ternyata sebelas tahun,” ujar Prabowo dalam dialog di Hotel St. Regis, Jakarta Selatan.
Terinspirasi dari Program Serupa di Negara Lain
Prabowo mengaku prihatin melihat kenyataan bahwa masih banyak anak di Indonesia yang hanya bisa makan nasi dengan garam. Kondisi tersebut, menurutnya, sulit dipahami oleh kalangan atas yang tidak mengalami langsung situasi kemiskinan.
Ia kemudian mengingat sejumlah negara yang telah lebih dulu menjalankan program serupa, termasuk negara-negara maju seperti Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat, hingga negara berkembang seperti India yang pendapatan per kapitanya bahkan lebih rendah dari Indonesia.
“Pada tahun 2023 saya mulai merencanakan program ini. Saat itu ada sekitar 77 negara yang telah menjalankan program makan bergizi gratis. Saya pikir Indonesia harus menjadi negara ke-78 atau ke-79 yang melakukannya,” jelas Prabowo.
Kini Sudah Ada 11.900 Satuan Pemenuhan Gizi
Presiden Prabowo juga menyampaikan kebanggaannya atas perkembangan program tersebut yang kini telah memiliki 11.900 Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah Indonesia.
Ia menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program politik, melainkan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak usia dini.
“Ini bukan hanya tentang memberi makan, tapi tentang masa depan bangsa. Anak-anak yang sehat dan cerdas adalah fondasi Indonesia Maju,” tegasnya.
