Jakarta, 1 September 2025 – Gelombang unjuk rasa yang berubah menjadi anarki kembali memakan korban. Dari Jakarta hingga Makassar, Surabaya, dan Pontianak, amuk massa tidak hanya menelan nyawa warga sipil, tetapi juga melumpuhkan fasilitas publik dan mengancam stabilitas ekonomi nasional.

Jakarta: Pengemudi Ojol Tewas, Brimob Dipatsus

Tragedi bermula di Jakarta pada 28 Agustus 2025. Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brimob saat kericuhan. Peristiwa ini memicu sorotan publik luas. Tujuh anggota Brimob kemudian diproses khusus (patsus) usai terbukti melanggar kode etik. Kapolri menyampaikan permintaan maaf dan berjanji bahwa proses hukum akan berjalan transparan.

Makassar: Gedung DPRD Hangus, 4 Nyawa Hilang

Kerusuhan berlanjut di Makassar pada 29 Agustus malam. Gedung DPRD Kota dan Provinsi dibakar massa, menewaskan empat orang sipil yang terjebak di dalam gedung. Mereka adalah Syaiful (pegawai kecamatan), Budi Haryadi (anggota Satpol PP), Muhammad Akbar Basri (fotografer DPRD), dan Sarinawati (staf DPRD). Keempatnya meninggal secara tragis saat menjalankan tugas sehari-hari.

Transportasi Jakarta Lumpuh

Selain korban jiwa, anarki juga menghantam infrastruktur transportasi di ibu kota. Sebanyak tujuh halte TransJakarta dibakar hingga operasional bus dihentikan total. MRT Jakarta pun terpaksa membatasi layanan hanya pada rute Lebak Bulus–Blok M. Akibatnya, mobilitas warga terganggu dan aktivitas ekonomi kota ikut terhambat.

Surabaya & Pontianak: Pos Polisi Jadi Sasaran

Di Surabaya, massa membakar sedikitnya tujuh pos polisi, sementara di Pontianak, pos polisi dan fasilitas umum turut dirusak. Aksi yang awalnya mengatasnamakan aspirasi berubah menjadi gelombang kekerasan terorganisir yang merusak sendi keamanan kota.

Ancaman Serius Terhadap Ekonomi

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) angkat bicara. Ia mengingatkan bahwa kerusuhan berkepanjangan akan menimbulkan dampak jangka panjang. “Jika kota bergejolak, kehidupan ekonomi akan berhenti. Dampaknya panjang bagi semua, terutama masyarakat kecil,” tegas JK.

Pesan Penting: Jaga Aksi Damai

Rentetan insiden ini menunjukkan satu pesan jelas: aksi anarkis tidak pernah menjadi jalan keluar. Nyawa yang melayang tidak akan kembali, fasilitas publik yang rusak butuh waktu lama untuk dipulihkan, sementara kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum kian tergerus.

Masyarakat diimbau agar tetap menjaga aksi damai, terukur, dan bebas dari provokasi. Aspirasi bisa disampaikan tanpa merusak, sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya tuntutan sesaat, tetapi juga nyawa, ketenangan kota, dan masa depan bangsa.