Jakarta – Beredar narasi menyesatkan di media sosial yang menuding Tentara Nasional Indonesia (TNI) sengaja membiarkan kerusakan fasilitas umum saat aksi demonstrasi pada Agustus lalu. Tuduhan tersebut menyebut TNI hanya menjaga objek vital tertentu sehingga membiarkan kerusuhan meluas, bahkan dipelintir seolah TNI menghendaki negeri dalam kondisi darurat militer.

Faktanya, klaim tersebut tidak berdasar. TNI menegaskan tidak pernah sekalipun memiliki kepentingan untuk menciptakan darurat militer. Kehadiran TNI di lapangan selama demonstrasi semata-mata untuk mendukung stabilitas, menjaga objek vital strategis sesuai dengan mandat undang-undang, dan membantu menenangkan masyarakat agar situasi tidak semakin memanas.

“Objek vital yang menjadi tanggung jawab TNI jelas diatur undang-undang, mulai dari bandara, pelabuhan, pembangkit listrik, hingga istana negara. Framing yang menyoal halte sebagai objek vital hanyalah permainan opini untuk menjatuhkan citra TNI,” demikian penegasan yang disampaikan.

TNI juga menolak keras wacana darurat militer. Sebaliknya, langkah yang dilakukan bersifat persuasif, dengan merangkul masyarakat dan mencegah eskalasi kekacauan. Tuduhan bahwa TNI sengaja diam dan membiarkan kerusakan disebut sebagai fitnah yang berbahaya.

“TNI tidak pernah membiarkan kerusakan, tidak menginginkan kekacauan, dan tidak ada niat menciptakan darurat militer. Yang dilakukan TNI jelas: menjaga rakyat, menjaga negara, dan setia kepada komando Presiden,” tegas pernyataan tersebut.