Kabar Netizen Terkini – Sejumlah elemen masyarakat pesisir di Kabupaten Tangerang merencanakan aksi damai menolak proyek reklamasi dan perluasan PIK-2, yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 18 Mei 2025, di sekitar kawasan wisata Mangrove Pulau Cangkir, Desa Kronjo, Tangerang.
Informasi ini diperoleh dari hasil rapat teknis lapangan yang digelar pada 14 Mei 2025 pukul 16.30 WIB oleh para inisiator aksi, di antaranya Kholid Miqdar (tokoh nelayan Pontang), H. Heru Makdis Adhari (tokoh nelayan Pulau Cangkir), dan Rizki (perwakilan mahasiswa dari UMT). Aksi ini ditargetkan diikuti oleh sekitar 500 orang massa dari berbagai desa pesisir dan unsur mahasiswa.
Substansi Aksi dan Penekanan Damai
Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa aksi akan dilakukan secara tertib dan tidak anarkis. Kholid Miqdar menegaskan bahwa dirinya tidak mentoleransi bentuk kekerasan atau provokasi apa pun selama aksi berlangsung.
“Saya tidak segan menyerahkan langsung ke aparat siapa pun yang membuat rusuh. Ini murni aspirasi rakyat kecil, bukan gerakan liar,” tegas Kholid dalam forum teknis.
Heru Makdis juga menambahkan bahwa isu yang diangkat tidak bersinggungan dengan isu politik nasional, melainkan murni menyoroti persoalan reklamasi, alih fungsi lahan, dan ancaman terhadap ruang hidup nelayan di pesisir utara Tangerang.
“Kami tidak bicara soal ijazah presiden atau isu nasional lainnya. Ini soal ruang hidup kami yang perlahan terhapus karena ekspansi proyek PIK-2,” katanya.
Sementara itu Rizki dari kalangan mahasiswa menyatakan bahwa mereka mendukung sepenuhnya perjuangan masyarakat pesisir, namun juga akan bertindak sebagai pengawas untuk mencegah penyusupan dari kelompok tak dikenal.
Rangkaian Aksi dan Simbolisme Lokal
Aksi dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WIB dengan titik kumpul di Desa Muncung, lalu dilanjutkan dengan long march menuju Tugu Cangkir. Agenda akan ditutup dengan pembacaan doa bersama dan pemotongan kambing sebagai simbol penolakan terhadap proyek yang dinilai mengancam ekosistem dan budaya pesisir.
Simbolisme ini dianggap penting untuk menyampaikan pesan bahwa masyarakat telah sampai pada titik penolakan total terhadap perluasan kawasan PIK-2 yang dianggap mengabaikan aspek lingkungan dan sosial.
Catatan Kerawanan dan Pendekatan Pengamanan
Meskipun disebut sebagai aksi damai, tim lapangan mencatat adanya potensi kerawanan, mengingat jumlah massa yang cukup besar dan keterlibatan elemen dari luar wilayah Kronjo. Lokasi aksi yang bersinggungan dengan kawasan wisata dan kepentingan proyek strategis nasional juga menjadikan momentum ini sebagai atensi khusus bagi aparat keamanan.
Dalam laporan teknis disebutkan bahwa telah dilakukan komunikasi dengan pihak kepolisian dan aparat wilayah agar pola pengamanan dilakukan secara humanis dan terukur, serta menjamin bahwa aspirasi warga tetap dapat tersampaikan.
Pihak panitia aksi juga menyatakan telah melakukan koordinasi internal, termasuk edukasi kepada peserta agar tidak terprovokasi dan menjaga ketertiban hingga akhir kegiatan.
Konteks Penolakan Proyek PIK-2
Proyek PIK-2 yang merupakan perpanjangan dari proyek Pantai Indah Kapuk di Jakarta, kini mulai dikembangkan di wilayah pesisir Kabupaten Tangerang. Beberapa titik perluasan yang telah berjalan berada di Desa Lemo, Kohod, dan Tanjung Burung. Proyek ini sempat ditolak oleh sejumlah tokoh agama dan masyarakat sipil karena dugaan praktik penggusuran, tekanan jual-beli tanah murah, hingga hilangnya ruang hidup nelayan.
Dalam dokumen advokasi warga pesisir, reklamasi PIK-2 dinilai mengancam wilayah konservasi mangrove, situs sejarah lokal, dan meningkatkan risiko bencana ekologis.
