Jakarta — Situasi politik di Nepal tengah menjadi sorotan dunia. Kerusuhan besar melanda ibu kota dan berujung pada mundurnya Perdana Menteri serta Presiden. Menariknya, pola gejolak di Nepal dinilai memiliki kemiripan dengan apa yang pernah terjadi di Indonesia beberapa waktu lalu. Namun, perbedaan dalam cara penanganan membuat hasil akhirnya kontras: Nepal terjerumus dalam transisi pemerintahan yang tidak pasti, sementara Indonesia tetap berdiri kokoh.

Pola Kesamaan Nepal dan Indonesia

Sejumlah titik kesamaan terlihat jelas. Pertama, munculnya simbol perlawanan. Di Indonesia sempat populer bendera Jolly Roger sebagai ikon oposisi rakyat, sementara di Nepal masyarakat menggunakan bendera perlawanan serupa. Kedua, lembaga legislatif menjadi sasaran utama. Gedung DPR di Indonesia dan parlemen Nepal sama-sama dipandang sebagai simbol “elit politik” yang dianggap mengkhianati rakyat.

Ketiga, peran influencer yang mendadak tampil sebagai corong massa. Baik di Indonesia maupun Nepal, popularitas media sosial digunakan untuk membentuk opini dan mendorong mobilisasi aksi. Keempat, arah politik pemerintah yang condong ke Tiongkok dan menjauh dari Barat juga memicu narasi kecurigaan bahwa kepentingan asing lebih diutamakan dibanding rakyat.

Perbedaan Krusial: Indonesia Bertahan, Nepal Goyah

Di Indonesia, pemerintah tetap solid. Presiden Prabowo mampu menahan tekanan, sementara mayoritas masyarakat bersikap cerdas dengan tidak mudah terprovokasi. TNI hadir secara humanis di tengah masyarakat: merangkul massa, meredam emosi tanpa represif, mengevakuasi keluarga Brimob yang terkepung, menengahi warga yang hampir menyerang polisi, hingga menggagalkan upaya pembakaran Polres Jakarta Pusat. Sinergi inilah yang membuat situasi tetap terkendali.

Sebaliknya, di Nepal kerusuhan justru membuat Perdana Menteri dan Presiden mundur. Negara itu kini masuk fase transisi pemerintahan yang penuh ketidakpastian. Dampaknya, stabilitas politik goyah, pembangunan terhambat, kepercayaan publik menurun, dan rakyat semakin menderita akibat konflik elit serta potensi intervensi asing. Minimnya peran militer dalam menjaga keamanan membuat kepolisian kewalahan hingga situasi berkembang menjadi chaos.

Dua Kemungkinan yang Muncul

Pengamat menilai ada dua kemungkinan penyebab pola kerusuhan yang serupa di banyak negara. Pertama, kebetulan pola, karena dinamika sosial-politik modern sering mengekspresikan diri lewat simbol, peran influencer, dan serangan terhadap lembaga legislatif. Kedua, adanya orkestrasi besar, yaitu skenario global atau regional yang dimainkan pihak tertentu untuk melemahkan pemerintahan.

Kesimpulan Strategis: Indonesia Selamat dari Orkestrasi

Indonesia bisa dianggap lebih berhasil mengelola krisis dibanding Nepal. Stabilitas masih terjaga, pemerintahan tidak runtuh, masyarakat menunjukkan kedewasaan, dan TNI hadir sebagai perekat sosial yang menenangkan situasi. Narasi bahwa “Indonesia selamat dari jebakan orkestrasi” dapat menjadi pengingat untuk selalu menjaga persatuan dan meningkatkan kewaspadaan publik ke depan.