Banten – Suara penolakan terhadap proyek reklamasi PIK-2 di pesisir utara Banten kembali menggema. Kali ini datang dari kalangan akademisi muda Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang menegaskan keberpihakan mereka kepada rakyat kecil dan lingkungan hidup.
Dalam sebuah kegiatan pada 14 Agustus 2025, Azis Ramadhan dari BEM FISIP Untirta menegaskan bahwa kampus tidak boleh diam menghadapi ancaman besar terhadap pesisir Banten. Menurutnya, akademisi memiliki tanggung jawab moral dan ilmiah untuk membela rakyat sekaligus menjaga keberlanjutan ekologi.
Ancaman Serius Reklamasi PIK-2
Azis menyoroti dampak serius yang akan ditimbulkan jika proyek PIK-2 terus dipaksakan. Reklamasi skala raksasa ini disebut mengancam:
- Kerusakan ekosistem laut yang menjadi penopang kehidupan nelayan.
- Penurunan hasil tangkapan nelayan, sehingga mengancam sumber penghidupan ribuan keluarga.
- Risiko bencana pesisir akibat hilangnya kawasan penyangga alami.
“Jika reklamasi ini dibiarkan, masyarakat pesisir bukan hanya kehilangan lautnya, tetapi juga masa depannya,” tegasnya.
Turun ke Desa, Bergerak Bersama Nelayan
Mahasiswa Untirta menyatakan tidak akan berhenti di ruang kelas atau seminar. Mereka berkomitmen turun langsung ke desa-desa pesisir, berdialog dengan nelayan, serta menggaungkan fakta-fakta kerusakan lingkungan ke ruang publik.
Gerakan ini menunjukkan bahwa perjuangan mahasiswa bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang berpihak kepada rakyat kecil. “Membela pesisir Banten bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal martabat rakyat kecil dan masa depan bangsa,” ujar Azis.
Garda Terdepan Perjuangan Rakyat
Dalam situasi ketika proyek-proyek raksasa kerap mengorbankan masyarakat, mahasiswa Untirta menegaskan sikapnya untuk berdiri di garda terdepan. Mereka tidak hanya menolak reklamasi PIK-2, tetapi juga ingin membangun kesadaran publik bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan kehidupan rakyat.
Gerakan mahasiswa Untirta menjadi bukti bahwa suara kritis masih hidup. Suara itu kini menyatu dengan nelayan, aktivis lingkungan, dan rakyat pesisir yang selama ini terpinggirkan oleh kepentingan modal.
“Ketika negara berpihak pada pemodal, maka rakyat harus bersatu. Kami mahasiswa siap berjalan bersama rakyat pesisir untuk melawan penindasan ini,” pungkasnya.
