BANDA ACEH – Dinamika kampus di Universitas Syiah Kuala (USK) tak hanya diwarnai agenda internal seperti Pemilihan Raya (Pemira) mahasiswa, tetapi juga respons terhadap isu nasional yang tengah menjadi sorotan publik.
Pada Sabtu malam (21/2/2026), sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan berdiskusi mengenai perkembangan situasi nasional, termasuk kasus dugaan penganiayaan terhadap seorang pelajar Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) di Tual, Maluku, yang diduga melibatkan oknum aparat kepolisian.
Pemira dan Ramadhan Produktif di Kampus USK
Ketua Umum Komisariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK, Rivaldi, menjelaskan bahwa saat ini kampus tengah memasuki tahapan Pemira. Proses pendaftaran calon Presiden Mahasiswa (Presma) telah dibuka dan dijadwalkan difinalisasi dalam waktu dekat.
Selain agenda politik kampus, mahasiswa juga menggelar kegiatan bertajuk “Ramadhan Produktif” berupa kajian buku menjelang waktu berbuka puasa. Kegiatan ini dilaksanakan selama sepekan hingga 28 Februari 2026 sebagai upaya menjaga ruang intelektual tetap hidup di tengah momentum bulan suci.
“Mahasiswa tetap fokus pada agenda akademik dan pembinaan diri, namun tidak bisa menutup mata terhadap isu kemanusiaan yang terjadi di luar daerah,” ujar Rivaldi.
Sorotan terhadap Kasus di Tual
Kasus yang menjadi perhatian adalah dugaan penganiayaan terhadap seorang pelajar MTsN di Tual, Maluku, yang berujung pada meninggalnya korban. Peristiwa tersebut viral di media sosial dan memicu reaksi dari berbagai kalangan, termasuk aliansi mahasiswa di Aceh.
Aliansi Mahasiswa se-Aceh menyatakan sikap mengecam segala bentuk tindakan brutal terhadap warga sipil, terlebih terhadap pelajar. Mereka menilai insiden tersebut bukan sekadar peristiwa hukum biasa, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus ditangani secara serius dan terbuka.
Mahasiswa mendesak agar proses hukum dilakukan secara tegas, transparan, dan tanpa adanya perlindungan terhadap pihak mana pun yang terbukti bersalah. Selain itu, mereka juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pola pendekatan represif yang dinilai kerap berujung pada korban.
Potensi Gelombang Solidaritas
Di tengah suasana akademik yang relatif kondusif, isu ini dinilai berpotensi memicu gelombang solidaritas lebih luas apabila tidak ditangani secara terbuka. Sejumlah mahasiswa menyebut, apabila suara publik dan mahasiswa tidak mendapatkan respons yang memadai, bukan tidak mungkin akan muncul aksi simbolik atau bentuk dukungan lanjutan.
Pengamat kampus menilai, dinamika ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih memegang peran sebagai moral force dalam merespons isu-isu yang dianggap menyentuh nilai keadilan dan kemanusiaan.
Pentingnya Transparansi dan Akuntabilitas
Peristiwa di Tual menjadi pengingat pentingnya akuntabilitas dalam penegakan hukum. Publik, termasuk kalangan mahasiswa, berharap aparat penegak hukum dapat mengedepankan transparansi, profesionalisme, serta tanggung jawab moral dalam menangani kasus tersebut.
Di sisi lain, suasana kampus USK saat ini tetap berjalan normal dengan fokus pada agenda Pemira dan kegiatan Ramadhan. Namun, respons mahasiswa terhadap isu nasional menegaskan bahwa ruang akademik tetap menjadi arena diskusi kritis atas berbagai peristiwa yang berkembang di tanah air.

