JAKARTA – Dinamika panas mewarnai pelaksanaan Kongres Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) 2026. Pasca penetapan kepengurusan baru, konflik internal di tubuh organisasi buruh besar ini berpotensi mengarah pada dualisme kepemimpinan.
Kongres yang digelar pada 8–10 Februari 2026 di Hotel Mercure Ancol menetapkan Suparno sebagai Presiden FSPMI dan Sabilar Rosyad kembali terpilih sebagai Sekretaris Jenderal untuk periode berikutnya.
Namun, hasil tersebut tidak diterima oleh kubu rival, H. Abdul Bais.
Walk Out hingga Munas Tandingan
Ketegangan memuncak pada 9 Februari 2026 ketika kubu H. Abdul Bais melakukan walk out dari sidang kongres. Sehari setelahnya, saat pelantikan Suparno dan Sabilar Rosyad digelar, tidak satu pun perwakilan dari kubu Bais hadir dalam rangkaian penutupan acara.
Bahkan, Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik (PUK SPEE) yang berada di bawah kepemimpinan Abdul Bais langsung menggelar Musyawarah Nasional (Munas) di lokasi yang sama sebelum meninggalkan arena kongres.
Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal kuat konsolidasi tandingan.
Penolakan dengan Dalih Cacat Hukum
Kubu Abdul Bais menilai pelaksanaan Kongres FSPMI 2026 cacat hukum dan melanggar aturan organisasi yang telah disepakati sebelumnya. Narasi tersebut kini mulai digulirkan di internal jaringan mereka.
Jika tidak segera dikelola, kondisi ini berpotensi menciptakan legitimasi alternatif di luar hasil kongres resmi.
Pengamat pergerakan buruh menilai, situasi seperti ini bukan sekadar konflik personal antar-elit, melainkan pertarungan legitimasi dan kontrol organisasi hingga ke tingkat basis.
Sikap Said Iqbal: Tunda Rekonsiliasi
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal untuk sementara memilih tidak merespons secara konfrontatif. Ia disebut akan membuka ruang komunikasi dengan kubu Abdul Bais setelah momentum Hari Raya Idul Fitri.
Strategi ini dinilai sebagai langkah menurunkan tensi dan mencari momentum yang lebih kondusif untuk rekonsiliasi.
Namun, jeda waktu tersebut juga membuka ruang konsolidasi masing-masing kubu.
Ancaman Dualisme dan Dampaknya
Situasi terkini menunjukkan potensi fragmentasi internal FSPMI. Jika konflik terus berlanjut, ada risiko munculnya dualisme kepemimpinan yang berdampak pada:
- Penurunan daya mobilisasi massa buruh
- Melemahnya soliditas komando organisasi
- Polarisasi permanen antar basis anggota
- Munculnya poros tandingan di luar struktur resmi
FSPMI dikenal sebagai salah satu federasi buruh strategis di Indonesia dengan basis massa yang besar dan militansi tinggi. Setiap gejolak internal berpotensi memengaruhi dinamika gerakan buruh nasional.
Momentum Penentu Arah Organisasi
Periode menjelang Idul Fitri menjadi fase krusial. Di satu sisi, ruang rekonsiliasi masih terbuka. Di sisi lain, masing-masing kubu berpotensi memperkuat narasi dan dukungan di tingkat akar rumput.
Apakah konflik ini akan berujung pada rekonsiliasi atau justru menguat menjadi polarisasi permanen, masih menjadi tanda tanya.
Yang jelas, hasil Kongres FSPMI 2026 bukan hanya soal pergantian kepemimpinan, tetapi juga ujian soliditas organisasi buruh di tengah dinamika politik dan perjuangan pekerja ke depan.

