CILACAP – Serangkaian unggahan di akun TikTok @hot.politic yang menuding adanya perpecahan di tubuh TNI menarik perhatian publik dan menimbulkan kontroversi. Sosok di balik akun tersebut, Gus Yazid, kini tengah menjadi sorotan bukan hanya karena pernyataannya yang dinilai provokatif, tetapi juga karena keterlibatannya dalam penyelidikan dugaan korupsi pengadaan tanah senilai Rp237 miliar di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Menurut sejumlah sumber penegak hukum, Gus Yazid sedang diperiksa oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah terkait dugaan penyalahgunaan dana dalam proyek pengadaan tanah. Namun, di tengah proses hukum itu, ia justru aktif melontarkan tuduhan terhadap oknum TNI yang disebutnya terlibat dalam praktik-praktik tertentu serta menyebarkan isu mengenai adanya “gerbong-gerbongan” di institusi militer.

Langkah tersebut dinilai sejumlah pengamat sebagai strategi pengalihan isu. “Tuduhan seperti ini biasanya dimaksudkan untuk menggeser perhatian publik dari substansi perkara hukum yang sedang dihadapi,” ujar seorang analis komunikasi politik di Jakarta. Ia menilai, gaya komunikasi yang digunakan Gus Yazid — dengan mengutip nilai moral, agama, dan nasionalisme — justru memperlihatkan upaya membentuk ilusi kebenaran di tengah masyarakat digital.

Dalam sejumlah videonya, Gus Yazid menuding adanya pembiaran oleh aparat intelijen TNI dalam peristiwa kerusuhan unjuk rasa pada Agustus 2025. Namun hingga kini, tidak ditemukan bukti konkret yang mendukung pernyataan tersebut. Tidak ada laporan resmi maupun hasil investigasi yang menunjukkan keterlibatan TNI sebagaimana yang ia klaim.

Para pakar pertahanan menyebut tudingan itu tidak logis dan berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi militer. TNI, sebagai lembaga pertahanan negara, memiliki rantai komando dan sistem pengawasan berlapis untuk memastikan setiap tindakan prajurit sesuai prosedur. Isu “gerbong” yang disebarkan Gus Yazid disebut sebagai propaganda digital yang dapat melemahkan moral pasukan serta mengganggu citra profesionalisme TNI.

“Selama ini TNI dikenal solid. Narasi seperti ini jelas berbahaya karena bisa menimbulkan persepsi keliru di masyarakat,” ungkap seorang sumber di lingkungan militer.

Selain menebar tudingan terhadap TNI, Gus Yazid juga tengah menjadi perhatian karena pengakuannya menerima uang hingga Rp18 miliar dari seseorang yang disebut “Andi”. Ia mengklaim dana itu digunakan untuk kegiatan sosial, namun tidak dapat menjelaskan secara transparan asal-usulnya.

Pernyataan yang tidak konsisten tersebut memunculkan dugaan bahwa serangan terhadap TNI merupakan bagian dari upaya distraksi publik agar isu dugaan korupsi yang menyeret namanya tidak mendapat sorotan besar. Alih-alih menjelaskan persoalan hukum yang dihadapi, Gus Yazid memilih menciptakan perdebatan publik dengan narasi yang bersifat emosional dan memecah belah.