Karawang Rencana aksi unjuk rasa di PT Schutz Container Systems Indonesia, kawasan KIIC Karawang, pada 16 dan 18 Februari 2026, masih menyisakan satu peluang penting: dialog.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Muda Laskar (GML) NKRI, Dinda Prana Kurniawan, menegaskan pihaknya belum menutup pintu mediasi dengan manajemen perusahaan. Bahkan, ia menyebut audiensi sebagai solusi yang lebih diutamakan dibanding mobilisasi massa.

“Kami sudah dua kali mengirim surat permohonan audiensi. Sampai sekarang belum ada pertemuan langsung. Tapi kami tetap membuka peluang mediasi,” ujar Dinda saat ditemui di Sekretariat GML NKRI, Karawang Timur, Jumat (14/2/2026).

Dua Surat, Belum Ada Pertemuan

Menurut Dinda, aksi yang direncanakan bukan langkah spontan. Ia mengklaim telah menempuh jalur komunikasi formal lebih dahulu. Namun karena belum difasilitasi, pihaknya menyatakan akan tetap bersiap melakukan aksi sesuai jadwal.

Meski begitu, ia menekankan bahwa tujuan utama bukanlah konfrontasi, melainkan kejelasan komunikasi terkait persoalan kerja sama pengelolaan limbah yang menjadi sorotan GML NKRI.

“Kalau bisa duduk bersama dan ada solusi, tentu itu lebih baik,” katanya.

Sorotan pada Isu Pemberdayaan Lokal

Isu utama yang diangkat GML NKRI berkaitan dengan keterlibatan pelaku usaha lokal dalam pengelolaan limbah perusahaan. Organisasi tersebut menilai perlu ada transparansi dan komunikasi terbuka agar tidak muncul persepsi negatif di tengah masyarakat.

Karawang sebagai kawasan industri strategis terutama di wilayah KIIC memiliki dinamika hubungan perusahaan dan masyarakat yang sensitif. Stabilitas komunikasi menjadi kunci agar aktivitas industri tetap berjalan tanpa gesekan sosial.

Pembinaan Pemuda Jadi Narasi Utama

Di luar isu aksi, Dinda menegaskan organisasinya fokus pada pembinaan generasi muda. Ia menyebut GML NKRI sedang menyiapkan berbagai program pelatihan seperti peternakan ayam petelur, pengenalan mesin, hingga kolaborasi dengan narasumber dari dinas terkait dan HRD perusahaan.

“Anak muda harus punya disiplin dan keahlian. Kami tidak ingin mereka terjebak pada hal-hal yang melanggar hukum,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pola pikir generasi muda Karawang harus berubah ke arah kompetensi dan kesiapan kerja, bukan hanya reaktif terhadap isu.

Bola Kini di Tangan Manajemen

Dengan jadwal aksi yang semakin dekat, ruang mediasi yang masih terbuka menjadi penentu arah situasi. Apakah akan terjadi pertemuan sebelum tanggal 16 Februari, atau justru aksi tetap digelar?

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari manajemen PT Schutz Container Systems Indonesia terkait permohonan audiensi tersebut.

Yang jelas, publik kini menanti langkah konkret dari kedua belah pihak apakah dialog bisa menjadi jalan keluar, atau ketegangan akan berlanjut ke lapangan.