
Cipanas, 07 september 2025 menurut Dr. Anton Permana(Alumni Lemhannas, Pengamat Geopolitik Pertahanan dari TDM Institute)
Aksi demonstrasi besar pada akhir Agustus 2025 dinilai bukan sekadar gerakan spontan, melainkan bagian dari pertarungan politik elit melalui proxy di lapangan. Berbagai elemen masyarakat seperti mahasiswa, pelajar SMK, driver ojol, geng motor hingga kelompok perusuh diduga dimanfaatkan untuk menciptakan kesan gerakan alami, padahal ada kepentingan besar di baliknya.
Setidaknya terdapat tiga tujuan utama dari aksi tersebut: mendelegitimasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, melepaskan pengaruh kelompok status quo yang dianggap merusak bangsa, serta perebutan pengaruh di internal pemerintahan yang berpotensi menjatuhkan Presiden. Pertarungan ini melibatkan tiga kelompok besar: status quo bersama mafia dan oligarki, civil society yang kecewa pada kebijakan pemerintah, serta elit internal pemerintahan yang pecah kongsi.
Presiden Prabowo dinilai berada dalam posisi terjepit, menghadapi tekanan eksternal sekaligus sabotase internal. Dalam situasi itu, TNI menjadi benteng terakhir yang menopang pemerintahan. Namun aksi demonstrasi disebut telah diarahkan menjadi “killing ground” untuk menyudutkan TNI agar diframing negatif dan dipaksa kembali ke barak. Padahal, faktanya di lapangan, kehadiran TNI justru meredam kerusuhan, khususnya di Mako Brimob Kwitang.
Munculnya tuntutan mahasiswa 17+8 yang secara tiba-tiba memasukkan isu TNI memperlihatkan adanya “invisible hand” yang berupaya menjadikan TNI target politik. Jika TNI berhasil dilumpuhkan, maka kekuasaan Presiden Prabowo diyakini akan mudah digoyang, bahkan membuka peluang skenario penggantian kepemimpinan sebagaimana pernah terjadi pada 1998.
Situasi ini dipandang sebagai uji konsolidasi pemerintahan, terutama pada TNI, dalam menjaga stabilitas negara di tengah manuver politik elit dan tekanan sosial yang kian kompleks.
