Helikopter Water Bombing Jatuh di Sungai Barito Saat Jalankan Misi Pemadaman Karhutla

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengungkapkan kronologi jatuhnya helikopter water bombing di perairan Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Peristiwa nahas tersebut terjadi ketika wahana udara itu tengah berupaya mengambil air untuk keperluan pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan keterangan yang dirilis oleh Redaksi, insiden ini langsung menarik perhatian publik luas setelah laporan resmi diterbitkan. Aparat gabungan bersama instansi terkait segera dikerahkan menuju titik lokasi kejadian untuk melakukan penanganan darurat secara intensif.

Wahana terbang berjenis Super Puma H225 itu memang sedang mengemban tugas negara dalam operasi penanggulangan bencana asap. Misi tersebut dipimpin langsung di bawah penugasan resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana di wilayah Kalimantan Selatan. Pengambilan pasokan air dari aliran sungai dilakukan secara rutin guna menjinakkan titik-titik api yang meluas. Namun, musibah tidak dapat dihindari ketika proses pengambilan air sedang berlangsung di area perairan tersebut.

Lokasi persis jatuhnya helikopter dilaporkan berada di perairan Sungai Barito yang masuk wilayah Desa Tabatan, Kabupaten Barito Kuala. Wilayah tersebut selama ini menjadi salah satu titik fokus pengawasan ketat terhadap ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan. Warga sekitar sempat dikejutkan oleh insiden mendadak yang melibatkan armada udara penyelamat lingkungan tersebut. Petugas evakuasi langsung bergerak cepat menyisir area perairan guna mencari keberadaan awak pesawat.

Jumlah total awak yang berada di dalam kabin helikopter tersebut tercatat sebanyak tiga orang pekerja profesional. Mereka terdiri atas dua warga negara asing asal Australia serta seorang warga negara Indonesia yang bertugas di dalam pesawat. Keberadaan para kru ini menjadi prioritas utama dalam setiap operasi pencarian dan pertolongan yang digelar. Identitas seluruh awak telah dirilis secara resmi oleh pihak berwenang kepada awak media.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, memberikan keterangan rinci mengenai identitas para awak. “Helikopter tersebut sedang melaksanakan misi operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, dalam penugasan BNPB,” ujar Berton SP Panjaitan pada hari Minggu. Ia juga memastikan bahwa aktivitas penerbangan itu murni bertujuan untuk mengambil air guna memadamkan kebakaran. Informasi ini sekaligus meluruskan berbagai spekulasi yang sempat beredar di tengah masyarakat.

Berton merinci bahwa dua orang warga negara Australia yang berada di dalam helikopter bertindak sebagai pilot pesawat. Kedua warga asing tersebut masing-masing bernama Hugh Andrew John Page dan Michael John Betteridge. Sementara itu, satu awak berkewarganegaraan Indonesia bernama Yayan Supiansuri bertugas sebagai helikopter landing officer atau HLO. Perubahan data kewarganegaraan ini disampaikan sebagai pembaruan informasi dari pihak instansi terkait.

Kabar terbaru menyebutkan bahwa dua dari tiga awak helikopter telah berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Pilot Hugh Andrew John Page dan Michael John Betteridge ditemukan sehat dan langsung mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, satu awak lainnya atas nama Yayan Supiansuri masih belum ditemukan dan dalam proses pencarian intensif. Tim penyelamat terus menyisir area sekitar lokasi jatuhnya pesawat di sungai.

Pemerintah menyatakan memberikan perhatian sangat serius terhadap proses pencarian, pertolongan, dan penanganan seluruh korban insiden ini. Seluruh unsur terkait dikerahkan untuk mendukung operasi penyelamatan kru yang saat ini masih belum diketemukan. Perhatian khusus juga diberikan kepada pemulihan kesehatan dua pilot asing yang selamat. Langkah koordinasi lintas instansi terus diperkuat demi kelancaran seluruh rangkaian operasi darurat tersebut.

#BNPB #Karhutla #SungaiBarito