Jakarta – Menjelang rencana Aksi Nasional Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang disebut akan menurunkan sekitar 7.000 massa pada 28 Agustus 2025 di Jakarta, sejumlah pihak menyerukan pentingnya menempuh jalur dialog untuk mencapai hasil yang lebih cepat dan berkelanjutan.
Aksi besar buruh memang kerap menjadi sorotan publik dan media. Namun, pengamat hubungan industrial menilai, jalur negosiasi terbuka antara serikat pekerja dan pemerintah berpotensi menghasilkan kesepakatan yang lebih konkret tanpa mengorbankan ketertiban umum.
Dialog Dinilai Beri Hasil Lebih Cepat
Dalam beberapa pekan terakhir, pimpinan KSPI bersama Presiden KSPI Said Iqbal intens melakukan konsolidasi di berbagai daerah seperti Purwakarta, Karawang, Tangerang, dan Bandung. Di sela agenda tersebut, pembahasan tuntutan buruh terhadap pemerintah disebut sudah mulai mengerucut.
“Banyak perubahan positif lahir dari meja perundingan, bukan benturan. Kenaikan upah, perluasan jaminan sosial, hingga program pelatihan kerja adalah bukti bahwa dialog bisa membawa hasil,” kata salah satu pengamat ketenagakerjaan kepada redaksi, Rabu (14/8).
Menghindari Dampak Negatif Aksi Besar
Rencana aksi besar dinilai memiliki risiko mengganggu aktivitas kota, terutama lalu lintas dan kegiatan ekonomi. Karena itu, berbagai pihak mendorong agar aspirasi buruh tetap diperjuangkan, namun dengan cara yang meminimalkan potensi kerugian publik.
“Tidak ada yang ingin suara buruh hilang. Tapi ketertiban dan keamanan juga harus dijaga. Dialog adalah jalan tengah yang menguntungkan semua pihak,” tambahnya.
Komitmen Pemerintah dan Serikat
Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan disebut telah membuka ruang komunikasi intensif dengan pimpinan KSPI. Jalur tripartit yang melibatkan pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja kembali diaktifkan untuk membahas isu-isu strategis yang menjadi tuntutan buruh.
Harapannya, sebelum tanggal aksi, sebagian tuntutan dapat menemukan titik temu sehingga kebutuhan aksi besar bisa diminimalkan.
Kesempatan untuk Bersatu Lewat Dialog
Seruan ini menekankan bahwa perjuangan buruh tidak harus selalu dilakukan di jalanan. Dengan suasana perundingan yang kondusif, hasil dapat dirasakan lebih cepat oleh pekerja tanpa mengorbankan kenyamanan masyarakat.
“Demi masa depan buruh dan Indonesia yang lebih adil, mari pilih solusi, bukan konfrontasi,” pungkasnya.
