JAKARTA – kabarnetizenterkini.com | Usai merayakan Idulfitri dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan, masyarakat Indonesia kini kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Momentum arus balik mudik pun berjalan tertib, menunjukkan solidaritas tinggi di antara sesama warga. Namun, di tengah semangat persatuan yang tumbuh selama Ramadan, muncul kembali seruan provokatif bertajuk “Indonesia Gelap Jilid 2” yang memantik kekhawatiran publik.

Ajakan untuk menggelar aksi lanjutan “Indonesia Gelap” patut diwaspadai. Bukan hanya tidak berdasar, tetapi narasi yang dihembuskan juga mengarah pada upaya disinformasi dan pembelahan masyarakat. Padahal, suasana nasional justru sedang kondusif, dengan pemerintah baru yang tengah bekerja keras menyusun program-program prioritas demi menjawab tantangan bangsa.

Mensesneg Prasetyo Hadi telah mengingatkan bahwa meski kebebasan berpendapat dijamin konstitusi, tetap ada batas etika dan tanggung jawab yang harus dijunjung. Menyebut Indonesia berada dalam “kegelapan” di saat pembangunan terus berjalan dan rakyat masih solid, merupakan distorsi yang menyesatkan. Seruan semacam itu tidak hanya jauh dari realita, tetapi juga kontraproduktif terhadap upaya kolektif membangun negeri.

Sinyal penolakan terhadap narasi negatif tersebut juga datang dari parlemen. Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menegaskan bahwa kritik adalah bagian penting dari demokrasi. Namun, jika dikemas dalam bentuk agitasi yang membabi buta, maka itu justru merusak nilai demokrasi itu sendiri. Pemerintahan Prabowo-Gibran pun baru saja memulai masa kerjanya dan patut diberi ruang untuk membuktikan komitmennya.

Faktanya, saat ini berbagai sektor mengalami perbaikan. Program penguatan ekonomi nasional, peningkatan kesejahteraan, dan transformasi digital terus didorong. Di banyak daerah, infrastruktur tumbuh, investasi meningkat, dan ruang partisipasi publik dibuka lebar. Ini semua tidak akan terjadi jika Indonesia benar-benar dalam “kegelapan”.

Rakyat Indonesia tidak boleh terjebak dalam framing pesimistis yang sengaja dihembuskan untuk menciptakan ketegangan sosial. Kita baru saja menutup bulan penuh berkah dengan semangat gotong royong dan saling memaafkan. Jangan biarkan energi positif itu dirusak oleh sekelompok kecil yang mencoba merusak harmoni dengan agenda terselubung.

Mari lawan upaya pecah belah dengan menjaga persatuan. Indonesia tidak gelap, dan tidak akan pernah gelap. Selama rakyat tetap bersatu dan waspada terhadap provokasi, bangsa ini akan terus terang, bertumbuh, dan bercahaya. Jangan terpancing. Saatnya kita rawat semangat kebangsaan dengan aksi nyata, bukan slogan pesimistis tanpa solusi.