Jakarta – Sebuah narasi yang berasal dari potongan materi kuliah seorang profesor di Beijing ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam narasi tersebut disebutkan adanya teori mengenai “Grand Plan” yang berpusat pada Yerusalem sebagai pusat kekuasaan global di masa depan.
Narasi itu menyebut seorang akademisi bernama Profesor Jiang yang dalam kuliahnya pada Desember 2025 memaparkan teori geopolitik dan eskatologi yang menghubungkan sejarah organisasi rahasia, konflik Timur Tengah, hingga perkembangan teknologi global.
Materi kuliah tersebut kemudian beredar luas dalam bentuk rangkaian slide dan konten digital yang mengaitkan teori tersebut dengan berbagai referensi sejarah, agama, dan dinamika politik internasional.
Narasi Kuliah yang Viral di Media Sosial
Dalam konten yang beredar, Profesor Jiang disebut menutup kuliahnya dengan kalimat: “Semua jalan menuju Yerusalem.”
Narasi itu kemudian mengaitkan pernyataan tersebut dengan sejumlah referensi keagamaan, termasuk hadits yang menyebut wilayah Syam sebagai tempat berkumpulnya manusia pada akhir zaman.
Konten tersebut juga menyebut beberapa tokoh sejarah seperti Jacob Frank, Mayer Amschel Rothschild, dan Adam Weishaupt, yang disebut sebagai bagian dari teori tentang jaringan organisasi rahasia yang memiliki tujuan membangun tatanan dunia baru.
Dalam narasi tersebut, organisasi seperti Illuminati dan Freemason disebut sebagai bagian dari aliansi yang diyakini memiliki agenda global tertentu, meskipun klaim tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi dan peneliti sejarah.
Dikaitkan dengan Eskatologi dan Konflik Timur Tengah
Materi yang viral itu juga menghubungkan teori tersebut dengan konsep eskatologi atau keyakinan tentang akhir zaman dalam berbagai tradisi agama.
Dalam penjelasan yang beredar, disebutkan beberapa pandangan yang sering muncul dalam diskursus keagamaan, seperti:
- Keyakinan sebagian kalangan Yahudi tentang pembangunan kembali Haikal Sulaiman di Yerusalem.
- Pandangan kelompok Kristen Zionis yang percaya Israel memiliki peran penting dalam peristiwa akhir zaman.
- Teori tentang pemerintahan global yang disebut berpusat di wilayah Yerusalem.
Narasi tersebut juga menyinggung konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran, Israel, dan kekuatan global seperti Amerika Serikat.
Namun hingga kini, tidak ada bukti akademis yang secara luas diakui yang mendukung klaim bahwa terdapat rencana geopolitik global terpusat sebagaimana digambarkan dalam narasi tersebut.
Teknologi Global dan Teori “Surveillance State”
Bagian lain dari narasi yang viral juga mengaitkan perkembangan perusahaan teknologi global seperti Google, Meta, Amazon, dan OpenAI dengan konsep surveillance state atau sistem pengawasan global berbasis data.
Dalam konten tersebut disebutkan bahwa teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), hingga sistem mata uang digital dapat menjadi fondasi bagi sistem kontrol global di masa depan.
Pandangan tersebut sering muncul dalam berbagai diskusi mengenai masa depan teknologi, namun sebagian besar analis menilai hal tersebut sebagai spekulasi geopolitik dan teknologi, bukan kesimpulan ilmiah yang telah terbukti.
Perpaduan Geopolitik, Agama, dan Teori Konspirasi
Pengamat media menilai viralnya materi tersebut menunjukkan bagaimana narasi geopolitik, agama, dan teori konspirasi sering bercampur dalam diskursus digital modern.
Konten seperti ini cenderung menarik perhatian publik karena menggabungkan:
- konflik geopolitik global
- simbol keagamaan
- perkembangan teknologi
- serta prediksi masa depan dunia
Namun para ahli mengingatkan bahwa publik perlu memisahkan antara analisis akademik, interpretasi keagamaan, dan teori spekulatif yang beredar di media sosial.
Pentingnya Literasi Informasi
Fenomena viralnya konten tersebut juga menunjukkan pentingnya literasi informasi di era digital. Banyak materi yang beredar di media sosial sering kali merupakan potongan narasi yang telah disederhanakan atau diinterpretasikan ulang oleh berbagai pihak.
Karena itu, para pakar komunikasi menyarankan masyarakat untuk selalu memeriksa sumber informasi secara kritis dan memahami konteks akademik atau historis dari sebuah narasi sebelum menarik kesimpulan.
Di tengah derasnya arus informasi global, diskusi mengenai geopolitik, agama, dan teknologi diperkirakan akan terus menjadi topik yang menarik perhatian publik.

