JAKARTA — Tradisi Ramadan dan Idul Fitri di Palestina tetap dijalankan meskipun masyarakat Gaza menghadapi kondisi kemanusiaan yang sangat berat akibat konflik yang berkepanjangan. Hal tersebut disampaikan tokoh Palestina sekaligus Ketua Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban, Dr. Ahed Abu Atta, dalam wawancara di kanal YouTube SenayanTV bertajuk “Tradisi Ramadan dan Idul Fitri di Palestina”.
Dalam wawancara tersebut, Dr. Ahed menggambarkan bagaimana masyarakat Gaza berusaha mempertahankan tradisi keagamaan di tengah keterbatasan akibat kerusakan infrastruktur, penutupan akses bantuan, serta kondisi ekonomi yang semakin sulit.
Kondisi Gaza Selama Ramadan
Menurut Dr. Ahed Abu Atta, situasi di Gaza selama bulan Ramadan berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Penutupan jalur perbatasan menyebabkan bantuan kemanusiaan dan bahan pembangunan kembali wilayah yang rusak sulit masuk ke Gaza.
Selain itu, ribuan warga yang terluka akibat konflik menghadapi keterbatasan dalam mendapatkan layanan kesehatan. Banyak di antara mereka tidak dapat keluar dari Gaza untuk memperoleh perawatan medis yang memadai.
“Situasi kemanusiaan di Gaza saat ini sangat sulit. Banyak masyarakat kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya dalam wawancara tersebut.
Kondisi tersebut juga berdampak pada sektor pendidikan. Banyak sekolah dan universitas mengalami kerusakan sehingga aktivitas pendidikan tidak dapat berjalan normal.
Masjid Rusak, Ibadah Tetap Berjalan
Salah satu dampak konflik yang paling terasa adalah kerusakan pada banyak masjid di Gaza. Padahal pada bulan Ramadan, masjid menjadi pusat kegiatan ibadah seperti salat tarawih, salat subuh berjamaah, hingga kegiatan keagamaan lainnya.
Meski demikian, masyarakat Gaza tetap berusaha menjalankan ibadah dengan berbagai cara, termasuk mendirikan tenda di sekitar lokasi masjid yang rusak agar tetap dapat melaksanakan salat berjamaah.
“Ramadan adalah bulan ibadah. Meskipun banyak masjid rusak, masyarakat tetap berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan,” kata Dr. Ahed.
Tradisi Buka Puasa Bersama Tetap Dipertahankan
Salah satu tradisi penting masyarakat Palestina selama Ramadan adalah buka puasa bersama yang biasanya dilakukan di lingkungan permukiman, desa, maupun masjid.
Dalam kondisi normal, kegiatan ini menjadi ajang mempererat hubungan sosial antarwarga. Namun dalam situasi saat ini, kegiatan berbuka bersama sering kali dilakukan di sekitar puing bangunan atau di kawasan tenda pengungsian.
Beberapa lembaga kemanusiaan dan komunitas masyarakat tetap berupaya menyediakan makanan berbuka bagi warga yang terdampak konflik.
“Kadang kami mengadakan buka puasa bersama di antara puing-puing bangunan yang hancur. Hal itu dilakukan untuk memberikan harapan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Tradisi Idul Fitri di Palestina
Selain Ramadan, masyarakat Palestina juga memiliki berbagai tradisi dalam merayakan Idul Fitri. Salah satu yang paling umum adalah pelaksanaan salat Id di lapangan terbuka, yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat sejak lama.
Setelah salat Id, masyarakat biasanya saling mengunjungi keluarga dan kerabat sebagai bentuk silaturahmi. Anak-anak juga mengenakan pakaian baru dan menerima hadiah berupa uang atau bingkisan dari orang tua maupun keluarga.
Di Palestina, masyarakat juga memiliki tradisi membuat kue khas Idul Fitri seperti ma’moul, yaitu kue yang biasanya berisi kurma dan disajikan saat perayaan hari raya.
Namun dalam kondisi saat ini, banyak keluarga tidak dapat membuat makanan tradisional tersebut karena keterbatasan bahan makanan serta kondisi ekonomi yang sulit.
Kehilangan Besar di Tengah Konflik
Dalam wawancara tersebut, Dr. Ahed Abu Atta juga mengungkapkan bahwa konflik yang terjadi telah menyebabkan banyak keluarga kehilangan anggota keluarganya.
Ia menyebutkan bahwa dalam keluarganya sendiri lebih dari 150 orang anggota keluarga telah meninggal dunia selama konflik berlangsung.
Situasi ini membuat perayaan Idul Fitri tahun ini diperkirakan akan berlangsung dalam suasana penuh duka bagi banyak keluarga di Gaza.
Apresiasi untuk Dukungan Indonesia
Di akhir wawancara, Dr. Ahed Abu Atta menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia atas dukungan yang terus diberikan kepada rakyat Palestina.
Menurutnya, dukungan dari masyarakat Indonesia, lembaga keagamaan, organisasi kemanusiaan, serta berbagai elemen masyarakat menjadi bentuk solidaritas yang sangat berarti bagi rakyat Palestina.
Ia berharap perhatian dunia internasional terhadap kondisi kemanusiaan di Gaza dapat terus meningkat, sehingga masyarakat Palestina mendapatkan dukungan yang lebih luas dari komunitas global.

