Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah pada awal 2025 mulai menunjukkan hasil positif di berbagai daerah. Selain meningkatkan status gizi anak dan ibu hamil, program ini juga menggerakkan perekonomian lokal melalui pemberdayaan petani, nelayan, dan pelaku UMKM.
Menurut data Badan Gizi Nasional (BGN), hingga Juni 2025, program ini telah menjangkau lebih dari 4,8 juta penerima manfaat, meliputi anak-anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui. Pemerintah menargetkan 20 juta penerima sebelum 17 Agustus 2025, dan hingga 82,9 juta penerima pada akhir tahun ini.
Dampak positif terlihat di sejumlah daerah. Di Kota Padang, Sumatera Barat, program ini tidak hanya menambah semangat belajar siswa tetapi juga meringankan beban orang tua. “Alhamdulillah bisa makan siang, terus bisa lebih berhemat,” ujar salah seorang siswa SMP Negeri 13 Padang, dikutip dari Stunting.go.id. Pemerintah Kota Padang telah mengoperasikan tiga Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) dan bersiap menambah tujuh dapur baru pada Agustus–September 2025 untuk memperluas jangkauan.
Di Sorong, Papua Barat Daya, MBG membantu meningkatkan konsentrasi siswa di kelas. Kepala sekolah setempat menyebutkan bahwa kehadiran menu bergizi setiap hari membuat anak-anak lebih fokus belajar dan mengurangi kebiasaan jajan makanan kurang sehat.
Dampak ekonomi juga signifikan. Setiap dapur SPPG mempekerjakan rata-rata 45–50 tenaga kerja lokal dan memasok bahan makanan dari petani, nelayan, BUMDes, serta UMKM sekitar. Menurut Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, pendekatan ini bukan hanya memperkuat ketahanan gizi, tetapi juga memperkokoh fondasi ketahanan ekonomi daerah.
Selain itu, studi dari ISEAS – Yusof Ishak Institute (2024) menilai MBG berpotensi menyokong aksi iklim bila diintegrasikan dengan infrastruktur pendukung seperti sistem penyimpanan dingin dan desain menu rendah emisi. Hal ini dinilai dapat menjadi model kebijakan yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Meski masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan dapur di beberapa provinsi, capaian awal MBG menunjukkan arah positif. Pemerintah berkomitmen memperluas cakupan sambil memastikan kualitas dan keberlanjutan program. Dengan kombinasi perbaikan gizi, peningkatan prestasi akademik, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi lokal, MBG mulai membuktikan dirinya sebagai salah satu program strategis yang mendukung visi “Indonesia Emas 2045.”
