UPACARA HUT RI - Din Minimi bersama sejumlah eks kombatan mengikuti upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gampong Ladang Baro, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, Senin (17/8/2026). Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Din Minimi Gelar Upacara HUT RI Bersama Eks Kombatan, Titip Pesan Buat Generasi Muda Aceh, https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1039202/din-minimi-gelar-upacara-hut-ri-bersama-eks-kombatan-titip-pesan-buat-generasi-muda-aceh?page=2. Editor: Yocerizal

ACEH TIMUR – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menghadirkan suasana berbeda di Gampong Ladang Baro, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur. Nurdin Ismail atau yang lebih dikenal sebagai Din Minimi, bersama sejumlah mantan kombatan, mengikuti upacara pengibaran Merah Putih pada Senin, 17 Agustus 2026.

Momentum tersebut tidak sekadar menjadi seremoni kemerdekaan. Kehadiran mantan kombatan bersama masyarakat, unsur TNI-Polri, dan perangkat gampong memperlihatkan pesan penting mengenai perdamaian, persatuan, dan kehidupan Aceh setelah konflik.

Dalam kesempatan itu, Din Minimi menegaskan komitmennya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kami melakukan upacara di Ladang Baro. Kami masih di bawah NKRI,” ujar Din Minimi sebagaimana dikonfirmasi Serambinews.com.

Ia juga berharap cita-cita kemerdekaan dapat terus diwujudkan melalui Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Dari Jejak Konflik Menuju Momentum Merah Putih

Nama Din Minimi pernah menjadi perhatian dalam dinamika keamanan Aceh, terutama pada pertengahan dekade 2010-an. Ia dikenal sebagai mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kemudian memimpin kelompok bersenjata di wilayah Aceh Timur setelah berakhirnya konflik Aceh melalui Perjanjian Damai Helsinki 2005.

Pada masa tersebut, kelompok yang dipimpinnya menyuarakan sejumlah tuntutan, termasuk persoalan kehidupan mantan kombatan dan masyarakat yang terdampak konflik.

Babak itu kemudian berakhir pada penghujung 2015. Setelah melalui proses komunikasi dengan pemerintah, Din Minimi bersama kelompoknya memutuskan turun gunung dan menyerahkan sejumlah senjata.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang transformasi Aceh dari wilayah yang pernah dilanda konflik menuju kehidupan sosial yang lebih damai.

Kini, lebih dari satu dekade setelah peristiwa tersebut, Din Minimi kembali hadir di tengah masyarakat dalam konteks yang berbeda: berdiri bersama warga dan aparat negara dalam peringatan kemerdekaan Indonesia.

Ladang Baro dan Simbol Perubahan Aceh

Pemilihan Gampong Ladang Baro sebagai lokasi kegiatan juga memiliki nilai historis tersendiri.

Wilayah tersebut pernah berkaitan dengan proses pendekatan terhadap Din Minimi sebelum kelompoknya mengakhiri aktivitas bersenjata. Karena itu, pelaksanaan upacara HUT RI di tempat yang sama menghadirkan gambaran perubahan yang cukup kuat.

Jika pada masa lalu kawasan tersebut bersinggungan dengan dinamika konflik dan keamanan, kini masyarakat dapat berkumpul untuk memperingati kemerdekaan dalam suasana damai.

Usai upacara, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan pemberian santunan kepada 63 anak yatim. Kegiatan sosial tersebut semakin memperkuat nuansa kebersamaan dalam peringatan kemerdekaan di Ladang Baro.

Din Minimi Titip Pesan untuk Generasi Muda Aceh

Dalam momentum HUT ke-81 RI, Din Minimi memberikan perhatian khusus kepada generasi muda Aceh.

Menurutnya, perdamaian yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade harus terus dijaga. Pemuda diharapkan tidak membiarkan perbedaan latar belakang maupun suku menjadi pemicu perpecahan di tengah masyarakat.

“Saya selaku putra Aceh berharap sangat kepada pemuda selalu menjaga perdamaian tanpa memandang suku yang tinggal di Aceh,” katanya.

Pesan tersebut menjadi relevan karena semakin banyak generasi muda Aceh saat ini yang lahir atau tumbuh setelah berakhirnya konflik bersenjata.

Mereka tidak mengalami secara langsung periode panjang konflik sebagaimana generasi sebelumnya. Namun, justru generasi inilah yang memiliki peran besar dalam menentukan arah Aceh pada masa mendatang.

Perdamaian Menjadi Modal Masa Depan Aceh

Lebih dari dua dekade setelah MoU Helsinki ditandatangani pada 15 Agustus 2005, tantangan Aceh tidak lagi hanya berkaitan dengan mempertahankan perdamaian, tetapi juga bagaimana perdamaian tersebut mampu menjadi fondasi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Perbedaan pandangan maupun aspirasi politik merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa stabilitas dan ruang dialog menjadi modal penting agar perbedaan tersebut tidak berkembang menjadi konflik.

Karena itu, keterlibatan masyarakat, mantan kombatan, pemerintah daerah, tokoh lokal, serta TNI-Polri dalam ruang sosial yang sama memiliki nilai simbolis dalam proses konsolidasi perdamaian Aceh.

Upacara HUT RI di Ladang Baro menjadi salah satu gambaran transformasi tersebut.

Sosok yang dahulu dikenal melalui dinamika kelompok bersenjata kini berdiri dalam momentum pengibaran Merah Putih dan menyerukan kepada generasi berikutnya untuk mempertahankan perdamaian.

Dari Generasi Konflik ke Generasi Perdamaian

Aceh memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dilepaskan dari konflik, perdamaian, dan proses rekonsiliasi. Namun, masa depan daerah tersebut tidak harus terus dibayangi pengalaman masa lalu.

Pesan Din Minimi kepada pemuda Aceh menempatkan generasi muda sebagai salah satu penjaga keberlanjutan perdamaian.

Semangat tersebut menjadi semakin bermakna ketika disampaikan dalam peringatan kemerdekaan: menjaga Aceh tetap damai, memperkuat persatuan, serta mengarahkan energi generasi muda untuk membangun masa depan yang lebih sejahtera.

Dari Ladang Baro, peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia akhirnya membawa pesan yang lebih luas dari sekadar seremoni tahunan.

Merah Putih berkibar, mantan kombatan berdiri bersama masyarakat dan aparat, sementara pesan perdamaian diteruskan kepada generasi muda Aceh.