Kabar Netizen Terkini – Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Muhammad Falah Musyafa, menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama antara HMI dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), terutama dalam menghadapi dinamika ancaman modern seperti serangan siber, aksi terorisme, serta berbagai upaya yang bisa menggerus ideologi kebangsaan.
“Kolaborasi ini harus terus dijaga dan diperkuat agar kita mampu menghadapi tantangan zaman, baik hari ini maupun di masa yang akan datang,” kata Falah dalam keterangan resminya.
Falah turut mengomentari polemik yang muncul seiring pembahasan Undang-Undang TNI. Ia menyampaikan bahwa TNI merupakan institusi negara yang dibentuk dan dijalankan sesuai dengan amanat konstitusi.
“Jangan sampai kita melupakan sejarah. TNI adalah benteng utama pertahanan negara, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 30 ayat (3) UUD 1945,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa HMI memiliki sejarah panjang dalam membangun bangsa bersama TNI. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, kader HMI tidak hanya terlibat dalam gerakan intelektual, tetapi juga turun langsung ke medan juang bersama Tentara Keamanan Rakyat, cikal bakal TNI, melawan penjajah.
“Sejarah menunjukkan bahwa HMI dan TNI memiliki misi yang sejalan—yakni mempertahankan kedaulatan bangsa,” ujarnya.
Pasca kemerdekaan, Falah menyebut bahwa tantangan terhadap ideologi bangsa terus bermunculan. Salah satunya adalah ancaman dari ideologi komunisme yang mencoba menggantikan Pancasila. Dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965, HMI juga berada di barisan terdepan bersama TNI dalam menjaga stabilitas nasional dan mempertahankan sistem kenegaraan yang sah.
“Komitmen HMI untuk menjaga Pancasila dan kedaulatan negara tidak pernah surut. Dalam berbagai momentum sejarah, HMI dan TNI selalu berada di garis depan demi keutuhan Indonesia,” pungkasnya.
